Halo, saya Hendy Pratama, lahir pada 3 November 1995 di Madiun. Perjalanan saya dengan dunia literasi bermula sejak kecil. Saat TK dan SD, ibu saya berlangganan Majalah Bobo—sebuah titik awal yang menyalakan kecintaan saya terhadap cerita bergambar. Barulah saat SMP, saya benar-benar jatuh cinta pada buku, terutama buku motivasi dan cerita, yang menjadi teman setia saya.

Kecintaan itu terus tumbuh ketika saya bersekolah di IAIN Ponorogo. Perpustakaan menjadi tempat favorit kedua saya selain kamar; tempat di mana saya bisa menemukan dunia baru melalui halaman-halaman buku. Tahun 2015, saya memberanikan diri untuk mulai menulis dan menerbitkan novel pertama saya berjudul Cinta Seluas Samudra, yang terinspirasi dari karya-karya Raditya Dika. Meskipun saat itu saya belajar menulis secara otodidak, jalan saya di dunia literasi semakin terbuka ketika seorang dosen bernama Lukman Santoso (yang kini menjadi guru saya) membentuk komunitas sastra FPM IAIN Ponorogo pada 2016.

Dalam perjalanan literasi ini, saya berkesempatan berkunjung ke Yogyakarta dan belajar bersama dengan komunitas Kutub, tempat saya mendalami sastra lebih jauh. Pengalaman ini memperkuat tekad saya untuk terus menulis dan berkontribusi dalam dunia literasi. Pada 2018, saya dan beberapa teman (seperti Fuaddin, Wasis, dkk) membentuk komunitas sastra Langit Malam, sebagai wadah untuk berbagi dan mengembangkan kecintaan kami terhadap karya sastra.

Perjuangan saya menembus media massa awalnya penuh dengan tantangan. Berkali-kali naskah saya ditolak. Namun, kegigihan selalu menemukan jalannya. Pada rentang waktu 2017-2019, sejumlah karya saya akhirnya berhasil diterbitkan di berbagai media, seperti Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dan lainnya.

Puncaknya adalah pada tahun 2021 ketika buku kumpulan cerpen saya, Heliofilia, terbit dan mendapatkan sambutan hangat. Buku ini dibedah di beberapa kota seperti Ponorogo, Madiun, dan Yogyakarta—sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Heliofilia diresensi dan didiskusikan di tempat-tempat seperti Toko Buku Rusamenjana, Ponorogo, Komunitas Kutub, Yogyakarta, hingga Unipma, Madiun.

Selain menulis, saya juga ingin memberi kontribusi nyata bagi dunia literasi di kota kelahiran saya, Madiun. Bersama Hayyik Ali M.M., saya mendirikan kelas penulisan Ngopi Fiksi—sebuah ruang bagi para penulis muda untuk berkumpul, belajar, dan berbagi. Saya juga mengajar ekstrakurikuler sastra di SMA 5 Madiun, membimbing generasi muda untuk mencintai dunia tulis-menulis.

Kini, saya terus menulis cerita pendek, puisi, dan esai. Namun, di balik itu semua, ada satu impian besar yang terus saya kejar: membangkitkan gairah literasi di Madiun dan menyebarkan kecintaan terhadap sastra kepada lebih banyak orang. Karena saya percaya, menulis membuatmu abadi.

Scroll to Top