Puss in Boots: The Last Wish
Sutradara: Joel Crawford
Produser: Mark Swift
Skenario: Paul Fisher, Tommy Swerdlow
Pengisi Suara: Antonio Banderas, Salma Hayek, Harvey Guillén, Florence Pugh, Olivia Colman, Ray Winstone
Durasi: 102 menit
Tahun Rilis: 2022
Studio Produksi: DreamWorks Animation
Genre: Animasi, Petualangan, Komedi
—
Saya selalu percaya, tidak ada yang lebih seru dari menonton kucing bersilat. Apalagi jika kucing itu mengenakan topi lebar, sepatu bot tinggi, dan bicara dengan aksen Spanyol yang memikat. Maka, ketika “Puss in Boots: The Last Wish” muncul di bioskop, saya tahu ini adalah film yang wajib ditonton, meskipun tiket bioskop semakin mahal dan dompet sudah tercekik tanggal tua.
Kucing dengan Delapan Nyawa yang Telah Melayang
Puss (dengan suara khas Antonio Banderas) kali ini harus menghadapi sebuah dilema eksistensial yang jarang muncul dalam cerita animasi: kematian. Ia, sang kucing pahlawan yang selalu terlihat tak kenal takut, menyadari bahwa delapan dari sembilan nyawanya telah ia habiskan dengan sembrono. Dari bergelut dengan banteng di arena hingga terjebak dalam situasi absurd lainnya, Puss akhirnya dihantui oleh fakta bahwa hanya ada satu nyawa yang tersisa.
Momen kesadaran ini tampak menegangkan. Coba lihat, bagaimana seorang (atau seekor) Puss yang begitu gagah dan arogan mendadak harus berhadapan dengan keterbatasan hidupnya? Di sinilah cerita mulai menancapkan kuku emosionalnya. Film ini merupakan suatu refleksi tentang bagaimana kita sering lupa menghargai momen hidup sampai dihadapkan pada batasnya.
Visual yang Memukau
Sejak awal, DreamWorks Animation jelas ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Animasi di film ini terasa seperti perpaduan antara lukisan tangan dan CGI modern. Setiap adegan seperti dirancang untuk memukau. Misalnya, adegan ketika Puss melarikan diri di tengah hutan yang penuh warna, atau saat ia bertarung di atas meja penuh makanan. Visualnya terasa hidup, seperti buku cerita yang tiba-tiba menjadi nyata.
Detailnya juga luar biasa. Misalnya, bulu halus di tubuh Puss, gerakan ekor yang dinamis, hingga ekspresi wajah yang terasa begitu manusiawi. Ini bukan sekadar animasi anak-anak yang asal lucu. Ada seni di dalamnya, dan itu membuat setiap frame layak untuk diabadikan.
Visual film ini menjadi alat narasi yang penting. Warna-warna cerah pada awal film mencerminkan jiwa Puss yang penuh petualangan dan semangat. Namun, ketika cerita mulai memasuki momen reflektif, palet warnanya berubah menjadi lebih gelap, menunjukkan kedalaman emosional karakter. Dalam dunia animasi, langkah seperti ini adalah sebuah pencapaian.
Karakter yang Mencuri Perhatian
Selain Puss, ada banyak karakter lain yang mencuri perhatian. Kitty Softpaws (Salma Hayek) kembali sebagai partner-in-crime yang tangguh, sekaligus memberi bumbu romansa yang manis. Namun, yang paling menarik adalah kehadiran Perrito (Harvey Guillén), anjing kecil dengan optimisme tanpa batas. Dinamika mereka bertiga menjadi salah satu daya tarik utama film ini.
Di sisi lain, antagonis film ini juga tidak kalah memikat. Goldilocks dan Tiga Beruang, misalnya, memberikan sudut pandang unik tentang keluarga dan ambisi. Mereka bukan sekadar penjahat satu dimensi, melainkan karakter dengan cerita latar yang menarik. Begitu pula sosok Death, yang digambarkan sebagai serigala menyeramkan dengan peluit melodi mengancam. Kehadirannya memberikan dimensi gelap pada film yang sebenarnya penuh warna.
Goldilocks (dengan suara Florence Pugh) membawa cerita baru tentang bagaimana keluarga tak selalu berasal dari darah. Hubungannya dengan Tiga Beruang memberikan perspektif lain tentang cinta dan penerimaan, bahkan di tengah ketidaksempurnaan. Sementara itu, karakter Death menambahkan elemen psikologis yang membuat penonton dewasa ikut terlibat. Ia adalah pengingat konstan tentang waktu yang terus berjalan, sesuatu yang mengintai kita semua.
Mencari the Last Wish
Dalam pencariannya menuju bintang harapan (The Last Wish), Puss menghadapi berbagai tantangan. Namun, di balik aksi seru dan humor yang mengocok perut, ada pesan yang menyentuh hati. Film ini mengajarkan bahwa hidup bukan soal mengejar kesempurnaan atau keabadian, melainkan soal bagaimana kita menikmati setiap detiknya.
Pesan ini tercermin dalam perjalanan Puss yang tidak hanya fisik, tetapi juga emosional. Ia belajar untuk mempercayai orang lain, sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai kelemahan. Relasinya dengan Kitty Softpaws dan Perrito berkembang menjadi simbol persahabatan yang sejati, mengajarkan bahwa kerentanan adalah kekuatan.
Adegan klimaks ketika Puss akhirnya berhadapan dengan Death adalah salah satu momen paling kuat dalam film ini. Ini bukan sekadar pertarungan biasa. Ini adalah momen introspeksi di mana Puss menyadari bahwa keberanian sejati bukanlah tentang menaklukkan rasa takut, tetapi menerima kenyataan dengan kepala tegak. Penonton tidak hanya dibuat terpana oleh aksi, tetapi juga dibuat merenung tentang arti keberanian dalam kehidupan nyata.
Salah satu kekuatan film ini adalah humornya yang cerdas. Dialog-dialognya dipenuhi dengan punchline yang segar, mulai dari lelucon ringan hingga humor yang hanya bisa dipahami oleh penonton dewasa. Misalnya, ada momen di mana Puss mencoba bertingkah keren, tapi malah gagal total – sebuah situasi yang mengingatkan kita pada momen-momen memalukan dalam hidup kita sendiri.
Interaksi antara Puss dan Perrito juga menjadi sumber tawa yang konsisten. Perrito, dengan ketulusan dan kepolosannya, sering kali menjadi kontras yang lucu dengan sifat Puss yang egois dan dramatis. Namun, di balik humor ini, ada pesan tentang bagaimana melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih sederhana dan penuh syukur.
Selain visual dan cerita, musik dalam film ini juga layak mendapatkan pujian. Komposer Heitor Pereira berhasil menciptakan skor yang mendukung setiap momen emosional dalam film. Dari nada-nada energik untuk adegan aksi hingga melodi melankolis untuk momen reflektif, musik dalam film ini menjadi elemen penting yang menyatukan semua aspek cerita.
Misalnya, ketika Puss berjalan sendirian di tengah malam, diiringi musik yang lembut namun penuh dengan rasa penyesalan, penonton benar-benar bisa merasakan beban emosional yang ia pikul. Musik di film ini bukan hanya latar belakang; ia menjadi bagian dari cerita itu sendiri.
Yang membuat “Puss in Boots: The Last Wish” begitu istimewa adalah bagaimana ia berani menyentuh tema yang jarang dibahas dalam film animasi. Kematian, keterbatasan, dan arti kehidupan adalah tema-tema besar yang biasanya disimpan untuk drama berat. Namun, film ini berhasil menyampaikannya dengan cara yang ringan namun tetap mendalam.
Puss, yang awalnya menganggap dirinya tak terkalahkan, akhirnya belajar bahwa hidup adalah tentang kualitas, bukan kuantitas. Ini adalah pelajaran yang relevan bagi kita semua, terutama di era di mana kita sering kali terobsesi dengan pencapaian tanpa henti.
“Puss in Boots: The Last Wish” bukan hanya sekadar sekuel dari film yang sudah populer. Ini adalah sebuah karya yang membuktikan bahwa animasi bisa menjadi medium yang setara dengan film live-action dalam menyampaikan cerita yang kompleks dan bermakna. Dengan visual yang memukau, karakter yang kuat, humor yang cerdas, dan pesan yang mendalam, film ini layak disebut sebagai salah satu animasi terbaik dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi siapa saja yang mencari hiburan yang menyenangkan sekaligus reflektif, film ini adalah pilihan yang sempurna. Puss mengajarkan kita bahwa keberanian sejati bukanlah tentang melawan musuh, tetapi tentang menghadapi diri sendiri. Dan mungkin, itu adalah pelajaran terbesar yang bisa kita ambil dari kucing berbaju Zorro ini.
Jadi, jika Anda punya kesempatan untuk menonton film ini, jangan ragu. Karena seperti kata Puss, “Hidup ini hanya sekali, amigo. Nikmatilah selagi bisa.”


