Author name: Hendy Pratama

lebaran dan sejumlah harapan
Esai

Lebaran dan Harapan yang “Belum” Terwujud

Kalau sudah masuk minggu terakhir Ramadan, suasana di Madiun itu biasanya mendadak berubah. Udara yang tadinya hening, tiba-tiba jadi terasa penuh beban. Bukan beban dosa ya—kalau itu mah sudah bawaan lahir—tapi beban ekspektasi. Di gang-gang sempit, suara gesekan ulekan bumbu di dapur mulai bersahut-sahutan dengan suara knalpot motor yang hilir mudik bawa belanjaan dari pasar.

Menulis Esai
Esai

Menulis Esai itu Gampang

Kalau ada satu hal yang sering bikin orang was-was saat harus menulis, itu adalah esai. Entah kenapa, kata “esai” ini seolah-olah punya aura akademis yang bikin kening berkerut. Begitu dibilang harus menulis esai, mendadak sebagian orang langsung panik. Mereka ngebayangin tugas kuliah yang tebalnya dua rim kertas. Padahal, kalau dipikir-pikir, esai itu nggak seseram itu,

Belajar Menulis Esai
Esai

Belajar Menulis Esai dengan Belajar Berkomentar

Dalam sebuah wawancara, Muhidin M. Dahlan pernah berkata bahwa belajar menulis esai itu dimulai dengan belajar mengomentari hal-hal kecil di sekitar kita. Ucapan itu terdengar sederhana, tapi bagi siapa pun yang pernah berhadapan dengan halaman kosong, nasihat ini seperti penyelamat yang melempar pelampung ke laut lepas. Menulis esai, apalagi yang renyah dibaca, bukan perkara gampang.

Menjadi Penulis
Esai

Tidak Putus Berkarya, 10 Tahun Menjadi Penulis

Saya tak terlalu bersemangat kalau bertemu dengan seorang teman yang ingin menulis. Bukan apa-apa, ini bukan soal saya tak ingin berbagi atau mendukung keinginannya. Namun, karena saya tahu, banyak orang yang ingin menulis, tapi jauh lebih sedikit yang benar-benar bertahan menulis. Kalau ada orang yang datang dengan penuh semangat dan berkata, “Saya ingin jadi penulis!”

Filosofi Teras
Resensi Buku

Filosofi Teras dan Cara Kita Mengendalikan Diri

Judul: Filosofi Teras Penulis: Henry Manampiring Penerbit: Kompas Tahun Terbit: 2018 Jumlah Halaman: 320 halaman — Bayangkan begini: Kamu baru bangun tidur, membuka media sosial, lalu melihat seorang teman yang baru saja membeli rumah mewah; satu lagi menikah dengan pasangan idamannya; dan yang lain memamerkan pekerjaan impian dengan gaji selangit. Sementara kamu? Masih rebahan dengan

Kursus Bahasa Inggris
Advertorial

Kursus Bahasa Inggris, Cepat & Murah

Kursus Bahasa Inggris — Kalau dihitung-hitung, ada satu hal yang tidak pernah absen dari daftar resolusi tahunan orang Indonesia: Belajar bahasa Inggris. Entah itu karena kepentingan akademik, peningkatan karir, atau sekadar ingin terlihat keren saat pesan kopi di kafe dengan aksen yang (dianggap) British. Tapi mari kita realistis, belajar bahasa Inggris itu bukan sekadar buat

Mencatat
Esai

Menulis itu Susah? Mulailah dari Mencatat

Ada satu kebiasaan kecil yang sering diremehkan, padahal dampaknya besar: Mencatat. Aktivitas sepele ini sering dianggap sebagai tugas bocah sekolah atau pekerja kantoran yang rajin, padahal ia adalah jalan sunyi yang bisa menuntun kita menjadi penulis yang lebih baik. Saya berani bilang, jika ingin membiasakan menulis, mulailah dari mencatat. Mencatat itu seperti menyicil masa depan.

Bumi Manusia
Resensi Buku

Bumi Manusia: Kolonialisme, Feodalisme, dan Harga Diri

Judul Buku: Bumi Manusia Penulis: Pramoedya Ananta Toer Penerbit: Hasta Mitra Tahun Terbit: 1980 Jumlah Halaman: 535 halaman — Ada dua jenis buku yang bisa mengubah hidup seseorang: Buku yang menyadarkan dan buku yang mengaduk-aduk emosi. Bumi Manusia adalah kombinasi keduanya. Pramoedya Ananta Toer tidak sekadar menulis novel sejarah, tetapi menelanjangi kolonialisme hingga ke akar

Satu Abad Pram
Esai

Satu Abad Pramoedya: Membaca Pram, Memahami Indonesia

Satu Abad Pramoedya — Sebagian besar orang mungkin mengenal Pramoedya Ananta Toer lewat “Tetralogi Buru”—sebuah mahakarya yang lahir dari penjara, membelah batas-batas zaman, dan terus menggema bahkan setelah seabad sejak kelahirannya. Tapi, Pram bukan sekadar penulis novel. Ia adalah arsip berjalan, suara yang menolak dibungkam, dan saksi sejarah yang enggan tunduk pada represi. Jika ada

Warren Buffett
Esai

Tips Mengelola Keuangan ala Warren Buffett

Ada suatu masa dalam hidup saya ketika saldo rekening lebih sering kosong daripada penuh, dan ketika penuh pun, umurnya tak pernah lebih dari seminggu. Saya kira, ini adalah penyakit umum anak muda: baru gajian, langsung royal. Rasanya seperti balas dendam setelah sekian lama hidup dalam kungkungan dompet tipis. Masalahnya, setelah puas jajan ini-itu, datanglah fase

Scroll to Top