Bahasa adalah alat komunikasi yang penuh warna. Di balik kekayaannya, terkadang ada sisi yang justru menjerumuskan kita ke dalam kebingungan. Salah satunya adalah kata kerja. Meski tampak sederhana—karena hampir setiap kalimat membutuhkannya—kata kerja ternyata menyimpan jebakan yang sering kali luput dari perhatian. Dalam bahasa Indonesia, kekeliruan ini bukan hanya soal salah paham, tapi juga soal salah pakai.
Mari kita mulai dari dasar: kata kerja aktif dan pasif. Banyak orang salah mengartikan “makan” sebagai kata kerja pasif. Padahal, “makan” itu aktif. Contohnya, “Saya makan nasi.” Subjeknya adalah pelaku yang melakukan tindakan makan. Sebaliknya, kalimat seperti “Nasi dimakan oleh saya” adalah bentuk pasif, di mana tindakan dilakukan kepada objek. Bingung? Jangan khawatir, banyak yang begitu, apalagi jika sudah masuk ke percakapan sehari-hari di mana aturan formal sering diabaikan.
Tapi, kekeliruan yang paling sering saya temui adalah dalam penggunaan imbuhan. Kata kerja seperti “mendapatkan” dan “dapat” sering kali digunakan sembarangan. “Saya mendapatkan hadiah dari bos” sebenarnya lebih panjang dari yang diperlukan. Kalimat “Saya dapat hadiah dari bos” sudah cukup dan bahkan terdengar lebih alami. Lalu, apa fungsi “mendapatkan”? Fungsinya ada di konteks formal atau untuk menunjukkan proses memperoleh sesuatu, misalnya: “Dia berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan.”
Beranjak dari soal imbuhan, mari kita bahas tentang kata kerja transitif dan intransitif. Apa bedanya? Kata kerja transitif membutuhkan objek untuk melengkapi maknanya, seperti “membaca” dalam kalimat “Dia membaca buku.” Tanpa kata “buku”, kalimat itu terasa menggantung. Sebaliknya, kata kerja intransitif tidak membutuhkan objek, seperti “berjalan” dalam “Dia berjalan setiap pagi.” Tapi, sering kali ada yang keliru memaksakan objek pada kata kerja intransitif. Misalnya, “Dia berjalan kaki di taman” sebenarnya terdengar redundan, karena “berjalan” dan “kaki” sudah mengandung makna yang sama.
Baca juga: Ketika Puss Terancam Kehilangan Nyawa Terakhirnya
Kebingungan lain muncul dari kata kerja yang serupa tapi tak sama. Contoh klasik adalah “menonton” dan “menyaksikan.” Banyak orang menganggap keduanya sinonim, padahal tidak selalu begitu. “Menonton” lebih spesifik mengacu pada aktivitas melihat sesuatu yang ditampilkan, seperti film atau televisi. Sedangkan “menyaksikan” memiliki makna lebih luas, termasuk kejadian yang terjadi langsung di depan mata, misalnya: “Saya menyaksikan kecelakaan di jalan.” Jadi, jangan bilang “saya menyaksikan drama Korea” kecuali Anda benar-benar berada di lokasi syuting!
Tidak cukup sampai di situ, ada pula kebingungan yang dihasilkan oleh penggunaan kata kerja serapan. Kata seperti “diskusi” dan “berdiskusi” sering digunakan tanpa aturan yang jelas. Contoh kelirunya: “Kami melakukan diskusi tentang proyek ini.” Kalimat itu sebenarnya bisa lebih sederhana: “Kami berdiskusi tentang proyek ini.” Penambahan kata “melakukan” sebenarnya tidak perlu, karena “berdiskusi” sudah memuat tindakan tersebut.
Bagaimana dengan dunia digital yang kerap menciptakan norma baru? Kata kerja seperti “download” dan “mengunduh” sering digunakan bergantian. Meski keduanya benar secara makna, pilihannya bergantung pada konteks. “Mengunduh” lebih cocok untuk tulisan formal, sementara “download” sering digunakan di percakapan santai atau di media sosial. Tapi, apakah salah jika mencampur keduanya? Tidak sepenuhnya salah, tapi tetap ada baiknya kita menjaga konsistensi agar pesan lebih jelas.
Kesimpulannya, kata kerja memang terlihat sederhana, tapi menggunakannya secara tepat membutuhkan pemahaman yang mendalam. Kekeliruan dalam penggunaan kata kerja bukan hanya soal tata bahasa, melainkan juga soal kejelasan pesan. Kata kerja adalah fondasi dari setiap kalimat, jadi salah memilihnya bisa membuat pesan yang ingin disampaikan jadi kacau.
Namun, mari kita tidak terlalu keras pada diri sendiri. Bahasa adalah alat yang terus berkembang, dan kebingungan adalah bagian dari proses belajar. Jadi, jika Anda merasa bingung dengan kata kerja tertentu, anggaplah itu sebagai kesempatan untuk memahami bahasa Indonesia lebih dalam. Bukankah belajar bahasa adalah perjalanan yang tak pernah selesai?



