Meningkatkan Kapasitas Memori dengan Membangun Otak Kedua

Building the Second Brain

Judul: Building a Second Brain
Penulis: Tiago Forte
Penerbit: Atria Books
Tahun Terbit: 2022
Jumlah Halaman: 272
ISBN: 978-1982167387

Saat pertama kali mendengar judul buku Building a Second Brain, saya langsung terbayang alat futuristik seperti helm yang bisa menyimpan ingatan kita ke dalam chip. Namun, setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa konsep “otak kedua” yang dimaksud Tiago Forte adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana: Sistem pencatatan. Ya, pencatatan. Hal yang kita anggap remeh, tapi sering kali menjadi akar dari kekacauan hidup kita.

Saya pertama kali mengetahui buku ini dari Wildan, kawan sekaligus rekan saya, pemilik Berdikari Media. Wildan, yang memang gemar membaca buku-buku self development, merekomendasikan buku ini dalam sebuah obrolan santai. “Kalau kamu sering merasa ide-idemu berceceran dan sulit menemukan waktu untuk fokus, buku ini cocok buatmu,” katanya.

Saya merasa penasaran dan memutuskan untuk membacanya. Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa Wildan benar; buku ini seperti peta yang membantu saya menavigasi kekacauan hidup di era modern.

Forte, melalui riset yang ia rangkum, menjelaskan bahwa memori manusia sebenarnya adalah sumber daya yang sangat terbatas. Kita hanya bisa fokus pada 7 ± 2 potongan informasi dalam satu waktu (mengingat teori chunking dari psikologi kognitif). Masalahnya, kita hidup di zaman di mana jumlah informasi yang harus dikelola jauh melampaui kapasitas itu. Dari notifikasi WhatsApp, tugas pekerjaan, ide yang tiba-tiba muncul saat mandi, hingga inspirasi dari TikTok yang entah kapan akan kita coba.

Saya teringat pada masa-masa saya kuliah dulu. Saya sering merasa kewalahan dengan tugas-tugas yang menumpuk. Bukannya fokus menyelesaikan tugas, saya malah sibuk mengingat tugas mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Hasilnya? Banyak tugas yang terlupakan dan berujung pada keteteran. Kalau saja saya tahu konsep “otak kedua” ini lebih awal, mungkin masa-masa itu akan lebih damai.

Tidak hanya itu, Forte juga menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan untuk terjebak dalam open loops atau lingkaran tugas yang belum selesai. Ketika ada terlalu banyak hal yang belum terselesaikan, otak kita terus-menerus memprosesnya di latar belakang, membuat kita merasa lelah dan cemas tanpa sebab yang jelas. Buku ini menawarkan solusi untuk “menutup” lingkaran tersebut dengan mencatat semua yang perlu kita ingat. Dengan mencatat, otak kita bisa berhenti mengkhawatirkan hal-hal kecil dan fokus pada hal-hal besar yang benar-benar membutuhkan perhatian.

Forte menawarkan solusi berupa sistem pencatatan yang disebut PARA (Projects, Areas, Resources, Archives). Intinya, semua informasi yang masuk ke hidup kita perlu dikategorikan ke dalam empat folder ini. Tujuannya adalah mengurangi beban kognitif, sehingga otak kita bisa fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

Sebagai orang yang kini sedang menulis buku tentang perubahan, saya langsung mencoba mengaplikasikan sistem ini. Ide-ide tentang bab, kutipan inspiratif, hingga referensi bacaan saya masukkan ke dalam folder-folder digital sesuai kategorinya. Hasilnya? Menulis jadi lebih lancar, karena saya tidak perlu mengaduk-aduk ingatan untuk mencari ide yang pernah saya pikirkan tiga minggu lalu.

Selain itu, sistem ini juga membantu saya mengatasi rasa takut lupa yang sering menghantui. Sebelum menggunakan “otak kedua,” saya selalu merasa khawatir kalau-kalau ide bagus yang muncul tiba-tiba akan hilang begitu saja. Sekarang, dengan mencatat semuanya, saya bisa tidur lebih nyenyak tanpa perlu mengandalkan ingatan saya yang sering kali tidak bisa dipercaya.

Di Indonesia, pencatatan sering kali dianggap sepele. Bahkan, sejak sekolah dasar, kita diajarkan untuk “menghafal” daripada “memahami dan mencatat.” Akibatnya, banyak dari kita tumbuh menjadi orang dewasa yang terlalu percaya pada daya ingat sendiri. Padahal, ingatan manusia adalah sesuatu yang mudah terkikis waktu.

Konsep “otak kedua” ini bukan hanya soal produktivitas, melainkan tentang menciptakan ketenangan batin. Ketika semua informasi yang penting sudah tercatat dengan rapi, kita tidak lagi dihantui perasaan takut lupa. Bayangkan, betapa damainya hidup tanpa perlu mengingat ulang setiap tugas yang harus dikerjakan atau ide yang ingin diwujudkan.

Bagi saya pribadi, buku ini juga membantu saya memahami pentingnya mengelola informasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang berpikir bahwa mencatat adalah pekerjaan yang membosankan dan hanya membuang waktu. Padahal, mencatat adalah investasi kecil yang memberikan hasil besar. Dengan mencatat, kita tidak hanya menghemat waktu di masa depan, tetapi juga mengurangi stres yang sering kali disebabkan oleh kekacauan informasi.

Tiago Forte, melalui Building a Second Brain, mengingatkan kita bahwa otak manusia tidaklah sempurna. Daripada terus memaksanya untuk melakukan hal-hal yang di luar kapasitasnya, lebih baik kita memberi “asisten” berupa sistem pencatatan yang andal. Buku ini menjadi manifesto tentang bagaimana kita seharusnya memandang otak dan peranannya dalam kehidupan modern.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kalimat Forte yang paling membekas bagi saya: “Your mind is for having ideas, not holding them.” Jadi, mari berhenti menyiksa otak kita dengan beban yang tidak perlu. Mulailah mencatat, mulailah membangun “otak kedua” Anda, dan rasakan betapa ringannya hidup Anda nanti.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top