Ada yang bilang, perbedaan kecil dalam bahasa itu seperti gerimis di sore hari: Tampak sepele, tapi diam-diam membasahi segalanya. Begitu pula dengan “dia” dan “ia”. Dua kata yang sama-sama sederhana, tapi menyimpan perbedaan rasa, konteks, dan fungsi yang menarik untuk digali. Awalnya, saya tak terlalu peduli. Namun, sebuah diskusi santai dengan teman lama, Daruz Armedia, mengubah semuanya.
Kala itu, Daruz Armedia menatap tulisan saya, lalu menunjuk sebuah kalimat, “Harusnya pakai ‘ia’ di sini, bukan ‘dia’.” Saya yang saat itu belum mengerti seluk-beluk kata ganti hanya mengangkat bahu sambil menjawab, “Bedanya apa?”
Daruz Armedian pun menjelaskan dengan gaya teratur: “‘Dia’ itu untuk percakapan santai, sedangkan ‘ia’ lebih formal. Jadi, nggak sembarangan.” Penjelasan itu tak langsung saya pahami, tapi cukup untuk memulai rasa penasaran saya terhadap dua kata ganti ini.
“Dia” yang Akrab dan Santai
Dalam kehidupan sehari-hari, “dia” adalah teman akrab yang selalu hadir di setiap obrolan. Dari gosip ringan di warung kopi hingga curhat yang deep di tengah malam, “dia” selalu menjadi pilihan utama. Misalnya, “Dia tuh yang kemarin bantuin aku pindahan.” Dengan “dia”, suasana percakapan jadi terasa cair, seperti berbincang dengan teman lama.
Menariknya, “dia” juga kerap muncul dalam berbagai lagu. Dari “Dia” milik Anji hingga lagu-lagu pop lawas, “dia” sering dijadikan simbol keintiman yang universal. Bayangkan, siapa pun bisa menjadi “dia” dalam lirik lagu. Entah itu kekasih, sahabat, atau bahkan kenangan yang sulit dilupakan.
Namun, fleksibilitas “dia” ini juga membuatnya kurang cocok dalam situasi formal. Dalam tulisan resmi atau karya sastra, “dia” sering dianggap terlalu santai. Di sinilah “ia” hadir sebagai alternatif yang lebih elegan.
Baca juga: Menggunakan Partikel “Pun” dengan Benar
“Ia” yang Formal dan Serius
Kalau “dia” adalah teman ngobrol di warung, “ia” adalah tamu undangan di acara resmi. Kata ini memberikan kesan berkelas, seperti mengenakan batik di acara pernikahan. Dalam kalimat seperti, “Ia adalah sosok yang penuh dedikasi,” nuansa formalitasnya begitu terasa.
Penggunaan “ia” sering kita temui dalam karya sastra. Dalam puisi Chairil Anwar atau prosa Pramoedya Ananta Toer, “ia” memberi kedalaman emosi dan nuansa reflektif. Contohnya, dalam puisi “Aku” yang legendaris, penggunaan “ia” menambah dimensi makna yang lebih dalam.
Di dunia jurnalistik, “ia” menjadi pilihan untuk menjaga nada profesional. Misalnya, “Ia menyampaikan pandangannya dengan tenang.” Kata ini memberikan rasa hormat tanpa terasa terlalu kaku. Meski begitu, penggunaannya dalam percakapan sehari-hari sering kali terasa janggal. Pernah saya mencoba menggunakan “ia” saat berbicara dengan teman, hasilnya? Mereka tertawa dan berkata, “Ngomong apa sih, kayak baca puisi!”
Pertemuan “Dia” dan “Ia”
Ada saat-saat di mana “dia” dan “ia” muncul bersamaan, menciptakan harmoni yang menarik. Dalam sebuah cerpen yang pernah saya baca, ada kalimat: “Dia melangkah mendekat, lalu ia berkata dengan suara pelan, ‘Aku di sini.'” Perpaduan ini memberikan ritme yang indah, seolah kedua kata tersebut saling melengkapi.
Kombinasi ini menunjukkan bahwa “dia” dan “ia” bukanlah rival, melainkan pasangan yang saling mendukung. “Dia” menggambarkan tindakan, sementara “ia” menghadirkan refleksi. Dalam tulisan, penggunaan keduanya dengan tepat bisa memberikan kedalaman yang luar biasa.
Sejarah dan Evolusi Kata Ganti
Jika kita melacak akar kata “dia” dan “ia”, ada jejak sejarah yang menarik. Kata “ia” diyakini berasal dari bahasa Melayu Klasik, yang sering digunakan dalam hikayat dan syair kuno. Sementara itu, “dia” muncul sebagai bentuk yang lebih modern dan akrab, mencerminkan evolusi bahasa Indonesia yang semakin inklusif.
Dalam naskah-naskah lama, “ia” sering digunakan untuk merujuk pada tokoh-tokoh penting atau dewa-dewi. Hal ini memberikan kesan formal dan sakral. Di sisi lain, “dia” mulai populer seiring perkembangan media massa dan budaya pop, menjadikannya lebih relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Untuk mempermudah memahami perbedaan “dia” dan “ia”, bayangkan keduanya sebagai jenis kopi. “Dia” adalah kopi tubruk: Sederhana, akrab, dan selalu ada di setiap warung. Sementara itu, “ia” adalah espresso: Kecil, kuat, dan sering kali hanya muncul di tempat-tempat tertentu. Keduanya punya penggemarnya masing-masing, tergantung selera dan suasana.
Dalam tulisan, “dia” cocok untuk cerita ringan atau percakapan. Sebaliknya, “ia” lebih pas untuk puisi atau pidato.
Baca juga: Kata Kerja yang Bikin Bingung
Kesalahan Umum dalam Penggunaan
Meski terlihat sederhana, penggunaan “dia” dan “ia” sering kali menimbulkan kesalahan. Salah satu yang paling umum adalah menganggap keduanya sepenuhnya bisa saling menggantikan. Padahal, konteks formalitas dan nuansa sangat memengaruhi pilihan kata yang tepat.
Contoh kesalahan lainnya adalah mencampur keduanya secara tidak konsisten dalam satu paragraf. Misalnya, “Dia datang terlambat, tetapi ia tetap disambut dengan hangat.” Kalimat ini terdengar janggal karena mencampurkan gaya santai dan formal secara bersamaan.
Menariknya, “dia” dan “ia” juga menimbulkan tantangan dalam terjemahan. Dalam bahasa Inggris, keduanya diterjemahkan menjadi “he” atau “she”. Namun, bahasa Inggris tidak memiliki cara untuk membedakan tingkat formalitas seperti yang dimiliki oleh bahasa Indonesia. Hal ini membuat penerjemah harus berhati-hati untuk menangkap nuansa yang tepat.
Bagaimana Penulis Menggunakan “Dia” dan “Ia”?
Dalam dunia kepenulisan, pilihan antara “dia” dan “ia” adalah bagian dari gaya. Beberapa penulis memilih “dia” untuk menciptakan suasana yang akrab, sementara yang lain menggunakan “ia” untuk memberikan kesan artistik. Penulis yang bijak akan memilih dengan mempertimbangkan nada, tema, dan pembacanya.
Pada akhirnya, “dia” dan “ia” adalah cerminan dari keindahan bahasa Indonesia. Mereka mengajarkan kita bahwa setiap kata punya jiwa, punya cerita, dan punya peran yang berbeda. Dalam kehidupan, kita mungkin lebih sering bertemu dengan “dia” yang akrab dan santai, tetapi jangan lupakan “ia” yang formal dan elegan. Keduanya adalah sahabat setia yang siap membantu kita menyampaikan apa pun, dari cerita ringan hingga pesan mendalam.
Jadi, kapan terakhir kali kamu menggunakan “ia” dengan penuh kesadaran? Atau, mungkin, kamu lebih nyaman dengan “dia”? Apa pun pilihanmu, yang terpenting adalah bagaimana kita memberi makna pada kata-kata itu dalam setiap kalimat yang kita tulis.
Dan siapa tahu, di balik kesederhanaan “dia” dan “ia”, ada kisah besar yang menanti untuk diceritakan.



