Filosofi Teras dan Cara Kita Mengendalikan Diri

Filosofi Teras

Judul: Filosofi Teras
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 320 halaman

Bayangkan begini: Kamu baru bangun tidur, membuka media sosial, lalu melihat seorang teman yang baru saja membeli rumah mewah; satu lagi menikah dengan pasangan idamannya; dan yang lain memamerkan pekerjaan impian dengan gaji selangit. Sementara kamu? Masih rebahan dengan rambut acak-acakan, dikelilingi tagihan yang belum terbayar. Lalu, perasaan apa yang muncul? Minder, iri, atau merasa hidup ini tak adil? Nah, di sinilah Filosofi Teras masuk sebagai penyelamat.

Buku ini memperkenalkan kita pada Stoisisme—filsafat Yunani Kuno yang ternyata masih sangat relevan di era sekarang. Henry Manampiring menulisnya dengan gaya santai, penuh humor, dan relatable dengan keseharian kita yang sering kali dihantui overthinking dan tekanan sosial. Bukan sekadar teori berat ala akademisi, tetapi benar-benar praktik yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini lahir dari pengalaman pribadi Henry yang sempat mengalami depresi. Dalam pencariannya akan ketenangan mental, ia menemukan Stoisisme dan merasa konsep ini begitu membantu dirinya menghadapi hidup dengan lebih tenang dan rasional. Dengan begitu, buku ini bukan sekadar bacaan filsafat biasa, melainkan semacam panduan hidup bagi siapa saja yang ingin menghadapi realitas dengan kepala dingin.

Filosofi Teras dan Dikotomi Kendali

Salah satu gagasan utama dalam Stoisisme yang sering dikutip dalam buku ini adalah konsep Dichotomy of Control alias dikotomi kendali. Intinya, dalam hidup ini ada dua jenis hal:

  1. Hal yang bisa kita kendalikan (pikiran, reaksi, usaha kita).
  2. Hal yang di luar kendali kita (cuaca, opini orang lain, keputusan atasan di kantor, mantan yang tidak mau balikan).

Ini terdengar sederhana, tapi sangat powerful. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk marah-marah di Twitter karena kebijakan pemerintah? Berapa banyak energi yang kita buang untuk memikirkan apakah si dia akan membalas chat kita atau tidak? Stoisisme mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang memang ada dalam kendali kita.

Dalam dunia kerja, dikotomi kendali bisa menjadi penyelamat mental. Seorang karyawan mungkin merasa cemas karena bosnya sering mengkritik tanpa alasan yang jelas. Daripada meratapi dan mengeluh, lebih baik fokus pada hal yang bisa dikendalikan, seperti meningkatkan kinerja dan mengasah keterampilan agar lebih kompetitif.

Baca juga: 12 Cara Menghadapi Stres Biar Pikiran Jadi Rileks

Premeditatio Malorum

Bagian lain yang menarik dari buku ini adalah konsep Premeditatio Malorum, yang secara harfiah berarti “mempersiapkan diri untuk hal buruk”. Stoisisme menyarankan agar kita membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi, bukan untuk menjadi pesimis, melainkan agar lebih siap mental jika hal itu benar-benar terjadi.

Misalnya, jika kita sedang menunggu hasil wawancara kerja, kita bisa membayangkan kemungkinan terburuk: Tidak diterima. Dengan begitu, ketika kabar buruk datang, kita tidak akan terlalu terpukul. Itu karena kita sudah siap dari awal. Sebaliknya, jika hasilnya baik, kita bisa lebih bersyukur.

Henry juga menyoroti bagaimana Premeditatio Malorum bisa membantu dalam urusan asmara. Kita sering kali berharap hubungan berjalan mulus, tanpa perselisihan atau hambatan. Namun, jika kita sudah siap mental untuk kemungkinan terburuk, seperti perbedaan visi atau bahkan perpisahan, kita tidak akan terlalu hancur ketika kenyataan tak sesuai harapan.

Amor Fati: Mencintai Nasib, Baik atau Buruk

Salah satu prinsip Stoisisme yang juga dijelaskan dalam buku ini adalah Amor Fati, yang berarti “mencintai takdir”. Intinya, bukan hanya menerima apa yang terjadi dalam hidup, tetapi juga mencintainya. Kalau hidup memberi kita lemon, Stoisisme tidak sekadar menyuruh kita membuat lemonade, melainkan menyuruh kita jatuh cinta pada lemon itu—pahitnya, asamnya, bahkan bijinya yang mengganggu.

Henry memberi contoh bagaimana ia menerapkan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi kegagalan. Ia bercerita tentang pengalamannya saat gagal dalam berbagai aspek kehidupan, dari pekerjaan hingga hubungan asmara. Alih-alih menyalahkan diri sendiri atau keadaan, ia memilih untuk melihatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus dinikmati.

Konsep ini sangat membantu di era di mana kita cenderung membandingkan hidup kita dengan pencapaian orang lain di media sosial. Melihat teman sebaya sudah punya rumah mewah sementara kita masih ngontrak di gang sempit bisa bikin stres. Tapi dengan *Amor Fati*, kita belajar menerima dan mencintai perjalanan hidup kita sendiri, tanpa harus iri dengan orang lain.

Menghadapi Kritik dan Perasaan Rendah Diri

Henry juga mengajarkan bagaimana Stoisisme bisa membantu kita menghadapi kritik dan perasaan rendah diri. Di zaman di mana komentar buruk bisa muncul kapan saja dari media sosial, penting bagi kita untuk memiliki mental yang kuat. Jika ada orang yang mencela karya kita atau meremehkan usaha kita, Stoisisme mengajarkan untuk melihatnya sebagai opini yang di luar kendali kita.

Seneca, salah satu filsuf Stoik yang sering dikutip dalam buku ini, pernah berkata bahwa kebahagiaan sejati berasal dari bagaimana kita menilai diri sendiri, bukan dari bagaimana orang lain menilai kita. Hal ini menjadi relevan bagi kita yang sering terjebak dalam validasi eksternal, mengukur kebahagiaan berdasarkan jumlah likes atau komentar positif dari orang lain.

Baca juga: Perihal Mengelola Emosi dan Mengendalikan Diri

Filosofi Teras yang Masih Relevan Sejak 2000 Tahun Lalu

Setelah membaca Filosofi Teras, saya bisa bilang bahwa ini bukan buku filsafat biasa yang bikin mengantuk. Henry Manampiring berhasil mengemas Stoisisme menjadi sesuatu yang relevan dan mudah dipahami, terutama bagi kita yang sering overthinking dan stres karena hal-hal yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan.

Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin hidup lebih tenang, lebih fokus, dan lebih siap menghadapi kenyataan hidup yang sering kali tidak sesuai ekspektasi. Bukan karena Stoisisme memberi solusi instan, tetapi karena ia menawarkan cara berpikir yang lebih sehat dalam menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian ini.

Jadi, jika hidupmu sedang terasa berat, kalau hati sedang kalut, atau sekadar ingin terlihat lebih intelektual saat nongkrong di kafe, Filosofi Teras bisa jadi teman yang pas untuk menemanimu berpikir lebih jernih. Lagipula, siapa tahu, setelah membaca buku ini, kamu tidak akan lagi terlalu peduli apakah dia membalas chat-mu atau tidak. Toh, itu di luar kendalimu, bukan?

Hendy Pratama

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top