Sebagai bangsa yang sehari-harinya menggunakan bahasa Indonesia, kita pasti akrab dengan kata “di”. Kata mungil ini sering muncul di mana-mana, dari buku pelajaran sampai status Facebook teman yang galau. Sayangnya, masih banyak orang yang salah kaprah dalam menempatkan “di”—seharusnya dipisah, malah disambung, atau seharusnya disambung, malah dipisah. Memangnya, apa susahnya membedakan “di” yang dipisah dan “di” yang disambung?
Masalah ini bukan hanya sekadar urusan tata bahasa yang remeh-temeh. Kesalahan dalam penulisan “di” bisa mempengaruhi makna kalimat dan bahkan membuat pesan yang ingin disampaikan jadi rancu. Bayangkan kalau seseorang menulis “di makan” saat maksudnya “dimakan”—bisa jadi ada kebingungan apakah “di makan” itu menyatakan lokasi atau justru sedang menggambarkan suatu aksi.
Selain itu, kesalahan dalam penulisan “di” juga bisa menunjukkan seberapa peduli seseorang terhadap penggunaan bahasa. Dalam konteks akademik dan profesional, kesalahan ini bisa dianggap sebagai tanda kurangnya perhatian terhadap detail. Bahkan dalam dunia jurnalistik dan penerbitan, kesalahan seperti ini bisa mengurangi kredibilitas tulisan.
Maka dari itu, kita perlu memahami secara mendalam bagaimana membedakan “di” yang dipisah dan yang disambung. Untuk itu, mari kita bahas lebih lanjut!
“Di” sebagai Kata Depan (Preposisi)
Pertama, kita bahas “di” yang harus dipisah. Dalam tata bahasa, “di” yang dipisah adalah preposisi atau kata depan. Preposisi ini berfungsi untuk menunjukkan tempat, arah, atau lokasi. Dalam bahasa Inggris, preposisi ini bisa disamakan dengan “at”, “in”, atau “on”. Contohnya:
- di rumah
- di kantor
- di hati mantan (meskipun kita tak lagi di hatinya)
Ciri khas “di” sebagai kata depan adalah bahwa setelahnya selalu diikuti oleh kata benda atau kata keterangan tempat. Jika kita melihat struktur kalimatnya, “di” ini tidak bisa berdiri sendiri dan harus berpasangan dengan objek tempat.
“Di” sebagai Imbuhan (Prefiks)
Nah, sekarang giliran “di” yang harus disambung. “Di” ini bukan preposisi, melainkan prefiks atau awalan dalam kata kerja pasif. Prefiks adalah imbuhan yang ditempatkan di awal kata dasar untuk membentuk kata baru. Dalam hal ini, “di-” berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif. Kalau dalam bahasa Inggris, ini mirip dengan bentuk “be + verb 3”. Misalnya:
- ditulis
- diketik
- dikirim
- dikhianati (sebuah kata yang sering muncul di timeline Twitter)
Ciri khas “di” sebagai prefiks adalah bahwa setelahnya selalu kata kerja. Kata kerja ini menunjukkan suatu tindakan yang dikenakan pada subjek oleh pelaku lain. Coba perhatikan contoh berikut:
- Dibaca oleh banyak orang (bisa dibaca)
- Dimakan semut (bisa dimakan)
- Dilupakan begitu saja (bisa dilupakan, meskipun menyakitkan)
Kata kerja pasif ini sering digunakan dalam kalimat berita atau deskripsi kejadian yang lebih menitikberatkan pada hasil tindakan daripada pelakunya.
Baca juga: Apa Bedanya Kata Ganti “Dia” dan “Ia”?
Cara Mudah Membedakan
Biar lebih gampang, ada trik sederhana: coba tambahkan kata “oleh” setelah “di”. Kalau kalimatnya masih masuk akal, berarti “di” harus disambung. Kalau terdengar aneh, berarti “di” harus dipisah.
Contoh:
- di rumah → di oleh rumah (nggak masuk akal, berarti dipisah)
- ditulis → ditulis oleh (masuk akal, berarti disambung)
- di meja → di oleh meja (nggak masuk akal, berarti dipisah)
- dimakan → dimakan oleh (masuk akal, berarti disambung)
Metode ini bisa digunakan setiap kali kamu ragu-ragu. Praktis dan anti-gagal!
Kenapa Masih Banyak yang Salah?
Masalahnya, kita hidup di era digital, di mana orang lebih sering mengetik cepat tanpa memperhatikan kaidah bahasa. Ditambah lagi, autocorrect kadang suka usil dan malah memperparah kesalahan. Coba deh perhatikan status media sosial atau komentar di YouTube, masih sering ditemukan kalimat seperti “diambil oleh teman saya” tapi ditulis “di ambil oleh teman saya”—padahal harusnya “diambil”. Atau sebaliknya, “di Jakarta” malah ditulis “dijakarta”—padahal harusnya dipisah.
Kesalahan ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan membaca. Semakin sering seseorang membaca tulisan yang benar, semakin mudah ia membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sebaliknya, jika sering terpapar tulisan yang salah, maka kesalahan itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Rangkuman
Singkatnya, kalau “di” diikuti kata benda atau keterangan tempat, maka dipisah. Kalau “di” diikuti kata kerja pasif, maka disambung. Dan kalau masih bingung, coba tes dengan kata “oleh”.
Memahami kaidah bahasa itu penting, bukan untuk pamer atau sok pintar, tapi supaya kita bisa berkomunikasi dengan lebih jelas dan nggak salah paham. Karena kalau salah paham gara-gara bahasa saja sudah menyebalkan, apalagi kalau salah paham gara-gara perasaan, kan?
Jadi, mulai sekarang, yuk lebih teliti dalam menulis! Masa kalah sama anak SD yang sudah paham aturan ini sejak kelas tiga?



