Indonesia lagi-lagi dirugikan oleh wasit yang curang. Pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 ronde ketiga melawan Bahrain, wasit Ahmed Al Kaf, asal Oman, menjadi sorotan tajam. Pertandingan yang berlangsung di Bahrain National Stadium berakhir dengan skor imbang 2-2. Namun, gol penyeimbang Bahrain yang terjadi di menit ke-90+9 membuat banyak pihak bertanya-tanya. Mengapa tambahan waktu tiba-tiba berubah? Bukankah seharusnya pertandingan berakhir di menit ke-96?
Pada laga tersebut, Indonesia bermain penuh semangat. Meski sempat tertinggal, tim Garuda mampu menyamakan kedudukan dan bahkan hampir memenangkan pertandingan. Hingga waktu tambahan 90+6, skor tetap imbang. Namun, di sinilah kejanggalan dimulai. Ahmed Al Kaf menambah waktu hingga menit ke-90+9 tanpa alasan yang jelas. Tak lama setelah itu, Bahrain mencetak gol.
Kontroversi dan Rejam Jejak Ahmed Al Kaf
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah tambahan waktu ini murni kesalahan teknis ataukah ada unsur kesengajaan? Beberapa pengamat sepak bola dan netizen di media sosial langsung melontarkan dugaan adanya manipulasi atau ‘kecurangan wasit.’ Teori ini semakin menguat mengingat Ahmed Al Kaf bukanlah wasit yang baru pertama kali menuai kontroversi. Pada beberapa laga sebelumnya, ia juga kerap dikritik karena keputusan-keputusan yang dianggap merugikan tim yang bukan tuan rumah.
Ahmed Al Kaf sudah beberapa kali mendapat kritik tajam dari berbagai pihak. Pada laga Liga Champions Asia 2020, Al Kaf juga disorot saat memimpin pertandingan antara Esteghlal Tehran dan Pakhtakor Tashkent. Keputusannya yang dinilai merugikan klub asal Iran tersebut memicu protes besar dari para pendukung Esteghlal, yang bahkan mengirimkan surat resmi ke AFC untuk mengevaluasi Al Kaf. AFC saat itu tidak mengambil langkah tegas, dan Al Kaf tetap melanjutkan karir perwasitannya tanpa konsekuensi yang berarti
Surat Protes dari Erick Thohir
Menanggapi insiden ini, Ketua Umum PSSI Erick Thohir langsung mengambil langkah tegas dengan mengirimkan surat protes resmi ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Erick dalam surat tersebut menyoroti keputusan Al Kaf yang dinilai tidak adil dan meminta investigasi lebih lanjut atas keputusan tersebut. Ini bukan kali pertama Thohir bertindak cepat dalam situasi krisis, mengingat reputasinya sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan kepentingan olahraga Indonesia di kancah internasional. Ia tidak hanya berbicara sebagai pimpinan federasi, tetapi juga sebagai representasi emosi jutaan pendukung sepak bola Tanah Air.
Namun, apakah surat protes ini akan mendapat tanggapan yang serius dari AFC? Sejarah menunjukkan bahwa organisasi seperti AFC kerap kali enggan menindak tegas wasit yang melakukan kesalahan. Terutama jika kesalahan tersebut terjadi di kandang tim tuan rumah. Namun, kasus ini perlu mendapat perhatian serius, mengingat dampaknya yang bisa merusak reputasi sepak bola di kawasan Asia dan juga global.
Home Advantage dan Wasit yang Curang
Dari sisi ilmiah, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep home advantage atau keuntungan tuan rumah. Teori ini menyebutkan bahwa tim tuan rumah sering kali mendapatkan keuntungan dari keputusan wasit, terutama dalam situasi-situasi yang kritis. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa wasit, baik secara sadar maupun tidak sadar, cenderung memberikan keputusan yang menguntungkan tim tuan rumah karena dipengaruhi oleh tekanan penonton dan atmosfer stadion.
Dalam kasus Indonesia melawan Bahrain, tekanan dari puluhan ribu suporter tuan rumah di Bahrain National Stadium mungkin telah memengaruhi keputusan Al Kaf untuk menambah waktu injury time. Studi yang dilakukan oleh Dohmen (2008) menunjukkan bahwa wasit dalam situasi tekanan cenderung membuat keputusan yang lebih menguntungkan tim tuan rumah. Ini adalah bentuk bias kognitif yang sering terjadi di pertandingan-pertandingan besar.
Kasus seperti ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai standar perwasitan di Asia. Di level internasional, khususnya di Eropa, wasit yang membuat keputusan kontroversial biasanya disorot tajam dan bisa dihukum jika terbukti melakukan kesalahan. Namun, di Asia, tindakan seperti ini tampaknya kurang mendapat perhatian serius, terutama jika melibatkan tim-tim dari kawasan yang lebih lemah secara historis seperti Asia Tenggara.
Baca juga: Sastra Lahir dari Komunitas!
Wasit Curang & Moral Timnas
Kejadian-kejadian seperti ini tidak hanya berdampak pada hasil akhir pertandingan, tetapi juga merusak moral pemain dan pendukung. Tim nasional Indonesia, yang sudah menunjukkan permainan terbaiknya di laga melawan Bahrain, akhirnya harus menerima hasil imbang yang terasa lebih seperti kekalahan. Para pemain, yang telah berjuang mati-matian di lapangan, tentu merasa kecewa melihat upaya mereka dirusak oleh keputusan wasit yang tidak adil.
Di sisi lain, suporter yang dengan penuh harap menonton laga tersebut dari berbagai penjuru Tanah Air juga merasakan pukulan emosional yang berat. Sepak bola bagi banyak orang bukan sekadar hiburan, melainkan representasi harga diri bangsa. Ketika wasit curang menjadi penentu hasil akhir pertandingan, harapan dan kebanggaan suporter pun seolah dipermainkan.
Transparansi Wasit
Apa yang terjadi di laga Indonesia melawan Bahrain adalah contoh nyata betapa pentingnya transparansi dalam perwasitan sepak bola. Sebuah pertandingan yang seharusnya menjadi tontonan yang adil dan sportif berubah menjadi kontroversi besar karena keputusan wasit yang tidak transparan. Oleh karena itu, sudah waktunya FIFA dan AFC meningkatkan mekanisme evaluasi wasit, termasuk penggunaan teknologi seperti VAR (Video Assistant Referee) secara lebih luas di pertandingan-pertandingan kualifikasi Piala Dunia.
VAR telah terbukti efektif dalam mengurangi kesalahan wasit di liga-liga top dunia seperti Premier League dan La Liga. Dengan menggunakan teknologi ini, keputusan-keputusan krusial seperti tambahan waktu atau pelanggaran bisa dievaluasi dengan lebih objektif. Jika VAR sudah diterapkan secara optimal di laga Indonesia vs Bahrain, mungkin hasil akhirnya akan berbeda, dan Indonesia bisa keluar sebagai pemenang.
Menuntut Keadilan di Sepak Bola
Sepak bola bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol lebih banyak, tetapi juga tentang keadilan dan integritas di atas lapangan. Kejadian di Bahrain menunjukkan bahwa sepak bola Asia masih perlu banyak berbenah, terutama dalam hal perwasitan. Keputusan wasit Ahmed Al Kaf yang kontroversial tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dan sudah waktunya AFC mengambil tindakan nyata untuk meningkatkan standar perwasitan di kawasan ini.
Bagi Indonesia, meskipun hasil di lapangan sudah tidak bisa diubah, suara protes harus terus disuarakan. Wasit curang tidak boleh dibiarkan merusak impian para pemain dan pendukung. Kita berhak mendapatkan pertandingan yang adil dan transparan. Di mana hasil akhir ditentukan oleh kemampuan tim di lapangan, bukan oleh keputusan sepihak dari wasit.
Erick Thohir dan PSSI telah mengambil langkah yang tepat dengan melayangkan protes resmi. Kini, kita tinggal menunggu bagaimana AFC merespons. Jika mereka mengabaikan protes ini, maka keadilan di sepak bola Asia benar-benar dipertanyakan.
