Saya selalu percaya, ada manusia yang lahir untuk membuat hidup orang lain jadi lebih bermakna. Pak Tulus Setiyadi adalah salah satunya. Pak Tulus, sastrawan asal Madiun yang sekaligus petani, adalah jenis manusia langka yang, meskipun tidak hidup di atas gemerlap panggung, selalu berhasil menciptakan karya yang membumi. Hari ini, saya mendengar kabar duka: Pak Tulus telah berpulang.
Kepergian Pak Tulus seperti kehilangan sebuah pelita kecil di tengah petang malam. Tak banyak yang tahu nama besarnya, apalagi di luar lingkup pencinta sastra Jawa. Namun, saya, yang beberapa kali mampir di kediamannya, bisa bersaksi bahwa pria bersyal itu adalah pilar kecil yang menyangga budaya besar.
Saya pertama kali benar-benar mengenal Pak Tulus dalam sebuah acara di Madiun. Saat itu, kami berkumpul di kedai Muccoffe milik Gus Hayyik. Pak Tulus datang dengan gaya khasnya, mengenakan syal dan flat cap. Di situ, ada pula Pak Panji, Pak Arif, dan beberapa teman-teman dari Majelis Sastra Madiun. Perbincangan kami malam itu mengalir seperti kopi yang dituangkan perlahan—hangat, dalam, dan penuh rasa.
Pak Tulus bercerita soal bagaimana ia memandang sastra sebagai ladang pengabdian. “Menulis itu seperti bertani,” katanya. “Kalau mau panen, ya kudu sabar nunggu musimnya.” Kami semua tertawa mendengar analoginya, meski dalam hati saya tahu betapa serius makna di balik kalimat itu.
Rumah Pak Tulus, yang oleh teman-teman Majelis Sastra Madiun sering disebut sebagai “Rumah Budaya Tulus Setiyadi,” adalah tempat yang tak pernah berhenti hidup. Pak Arif pernah bilang, rumah itu seperti kawah kecil bagi sastra. Di sana, Pak Tulus menulis, mengedit, bahkan mencetak buku-bukunya sendiri. Ia pernah menunjukkan kepada saya buku-buku karyanya–yang kebanyakan ialah novel berbahasa Jawa.
Salah satu kenangan paling membekas adalah ketika kami berdua membuat konten wawancara di sana. Mas Tulus dengan santai bercerita ihwal perjuangannya menerbitkan buku di tengah himpitan ekonomi. “Kadang, untuk cetak buku, saya harus gadaikan barang-barang. Ya, nanti kalau panen, ditebus lagi,” katanya sambil tertawa.
Wawancara ini–atau familiar disebut podcast, saya unggah ke YouTube. Beberapa hari kemudian, ia menelepon saya, mengucapkan terima kasih karena videonya ditonton cukup banyak orang. “Tapi jangan lupa, kalau ada yang nanya beli buku, kasih tahu alamat rumah saya,” pesannya.
Simak videonya di sini.
Ada satu momen yang tak mungkin saya lupakan. Seusai sebuah acara sastra, Pak Tulus ngajak saya makan malam. Ia membawa saya ke sebuah warung pinggir jalan milik orang Madura. Di sana, kami memesan ayam goreng dan segelas teh hangat. Saat makanan datang, ia tersenyum dan berkata, “Wis, aku sing traktir. Sastra boleh miskin, tapi kebahagiaan harus kaya.”
Simak videonya di sini: Ditraktir Sastrawan Senior
Pak Tulus memang bukan tipe orang yang suka basa-basi. Saat ngobrol, ia selalu to the point, tapi dengan cara yang membuat lawan bicaranya merasa dihormati. Ia pernah bilang, “Saya ini bukan apa-apa tanpa sawah dan buku. Kalau dua itu diambil, saya ya cuma manusia biasa yang nggak ngerti arah.” Kalimat itu terus terngiang di kepala saya, mengingatkan saya bahwa setiap orang punya akarnya masing-masing.
Karya-karya Pak Tulus selalu mencerminkan kehidupannya yang sederhana. Salah satu novel favorit saya adalah Sindhen Padmi, yang mengisahkan perjuangan perempuan Jawa dalam menghadapi bias gender. “Ini cerita tentang ibuku juga,” katanya suatu kali. “Wanita desa itu hebat-hebat, tapi sering dilupakan.” Saya bisa merasakan bagaimana cerita-ceritanya lahir dari kepekaan yang ia tanamkan dalam dirinya sejak kecil.

Kepergian Pak Tulus bukan hanya kehilangan bagi dunia sastra, tapi juga bagi saya secara pribadi. Ia adalah teman, mentor, sekaligus rimender bahwa hidup ialah tentang seberapa banyak yang kita bagikan kepada orang-orang.
Dan di saat saya mengenangnya, nama Tulus seperti memberikan sentilan tersendiri. Nama itu benar-benar mencerminkan dirinya—orang yang tulus dalam setiap langkahnya. Tulus mencintai sastra, tulus berbagi cerita, dan tulus memperjuangkan apa yang ia yakini. Tidak ada kepalsuan, tidak ada ambisi besar selain menjaga sastra agar tetap hidup di tanah yang ia pijak.
Hari ini, saya berdoa untukmu, Pak Tulus. Semoga Tuhan menerima semua kebaikanmu. Semoga karyamu terus dibaca dan menginspirasi. Dan semoga, di suatu tempat yang lebih tenang, kamu masih bisa menulis, sambil bertani. Selamat jalan, Pak Tulus, sastrawan yang benar-benar tulus.



