Jangan Ngopi Malam-malam kalau Gak Mau Insomnia

Sebagai penulis, saya sering bercanda bahwa malam adalah waktu paling produktif. Namun, sejujurnya, itu bukan pilihan, melainkan semacam konsekuensi biologis yang entah bagaimana melekat sejak lama. Insomnia, bagi saya, seperti teman lama yang sok akrab—tidak diundang, tapi tahu-tahu nongkrong di kepala.

Dulu, saat masih remaja, saya pikir susah tidur adalah tren keren. Bayangkan, begadang sampai subuh sambil menatap layar laptop, berpura-pura sibuk mengerjakan sesuatu yang penting, padahal cuma ngescroll meme atau video lucu. Kalau ditanya kenapa, jawabannya sering klise: “Begadang itu tanda orang kreatif!” Kenyatannya, sekarang, sebagai orang dewasa yang (katanya) harus bertanggung jawab, saya tahu betul bahwa begadang itu bukan soal kreatif atau tidak, melainkan kebiasaan buruk yang bertransformasi jadi kebiasaan kronis bernama insomnia.

Salah satu malam terpanjang yang pernah saya alami terjadi setelah saya pulang ngopi kemalaman. Sebagai introvert yang sudah mulai terlatih untuk bersosialisasi, saya tidak selalu bisa menolak ajakan nongkrong di kafe. Pada awalnya, obrolan terasa ringan dan seru—membahas film terbaru, politik dalam negeri, sampai rencana liburan yang mungkin hanya akan jadi wacana.

Namun, teman-teman saya punya kebiasaan buruk yang berbahaya bagi orang seperti saya: Menambah pesanan kopi saat obrolan semakin intens. “Tambahan espresso ini biar otak makin encer,” kata mereka sambil tertawa. Saya pun ikut-ikutan, meski hati kecil tahu itu bukan ide yang baik.

Hasilnya? Saat saya akhirnya pulang sekitar pukul sebelas malam, tubuh saya memang terasa lelah, tapi mata malah segar bugar. Saya berbaring, mencoba memejamkan mata, tapi yang terjadi justru sebaliknya: Otak saya berputar serupa rollercoaster. Pikiran-pikiran liar mulai bermunculan, dari pertanyaan eksistensial seperti, “Kenapa kita hidup di bumi, bukan di planet lain?” hingga pikiran konyol semacam, “Mengapa yang meletus harus balon warna hijau dalam lagu Balonku?”

Saya mencoba menenangkan diri dengan membaca artikel ringan di internet. Harapan saya, membaca akan membuat mata lelah dan akhirnya kantuk datang. Awalnya berjalan sesuai rencana. Saya membaca artikel tentang tips hidup minimalis, cara memasak telur yang sempurna, sampai berita ringan soal hewan langka yang ditemukan di pedalaman Amazon. Namun, entah bagaimana, membaca artikel di internet itu seperti masuk ke lubang kelinci.

Artikel pertama mengarahkan saya ke artikel kedua, artikel kedua membawa saya ke artikel ketiga, dan seterusnya. Tahu-tahu, saya membaca ulasan mendalam tentang cara merawat bonsai agar tidak stres. Bonsai! Padahal, saya tidak punya bonsai di rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, tapi alih-alih mengantuk, otak saya malah semakin aktif.

Karena membaca tidak berhasil, saya beralih ke solusi klasik: Scroll media sosial. Logikanya sederhana, melihat unggahan video-video lucu pasti bikin otak rileks. Namun, kenyataannya, saya malah keterusan sampai melihat ratusan postingan dan video reels.

Dan jika semua itu belum cukup, ada malam-malam di mana insomnia muncul tanpa sebab yang jelas. Malam-malam seperti ini biasanya lebih menyiksa lantaram pikiran saya seperti panggung pertunjukan yang tidak pernah tutup. Saya memikirkan hal-hal yang bahkan tidak masuk akal untuk dipikirkan di malam hari, seperti, “Apakah domain presmada.com sudah saya perpanjang?” atau “Bagaimana kalau buku yang sedang saya tulis ini ternyata membosankan bagi pembaca?”

Pikiran itu tidak datang satu per satu, tapi bergerombol, seperti tamu yang tidak tahu etika. Tidak peduli seberapa keras saya mencoba untuk diam dan tidur, mereka terus berdatangan, mendesak perhatian.

Akan tetapi, dari semua ini, saya sadar bahwa saya tidak sendirian. Banyak orang di luar sana yang mengalami hal serupa. Mungkin mereka tidak terjaga karena kopi atau artikel bonsai, tapi alasannya selalu sama: Pikiran yang tidak bisa diam.

Saya tidak punya solusi ajaib untuk insomnia. Saya sudah mencoba segala cara, dari meditasi, minum susu hangat, sampai memasang aromaterapi di kamar. Beberapa memang membantu, tapi tidak ada yang benar-benar permanen. Yang bisa saya lakukan hanyalah berdamai dengan malam-malam panjang itu.

Sebagai seorang penulis, saya mencoba memanfaatkan insomnia ini dengan menulis. Kadang, di tengah keheningan malam, saya menemukan ide-ide terbaik. Saya menuangkan kegelisahan, pertanyaan, bahkan rasa frustrasi ke dalam tulisan. Dan meskipun tulisan itu tidak selalu selesai, setidaknya saya merasa sedikit lebih ringan.

Jadi, untuk Anda yang sedang membaca ini di tengah malam, mungkin sambil berharap kantuk segera datang, tenang saja. Kita berbagi perjuangan yang sama. Kadang, malam yang panjang ini tidak harus menjadi musuh. Bisa jadi, ia adalah kesempatan untuk mengenal diri sendiri secara lebih dalam dan intim—ya, meski itu dimulai dari satu cangkir kopi yang salah waktu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top