Kalau ada satu hal yang tak pernah saya duga dalam hidup, itu adalah jadi ghost writer untuk seorang guru Bahasa Indonesia. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa suatu malam, saya akan begadang demi memperpanjang cerpen orang lain—cerpen yang bahkan bukan tulisan saya. Namun, begitulah hidup, sering kali menawarkan plot twist yang tak pernah kita minta.
Semuanya bermula dari permintaan Bu Siti Sunarti, atau yang akrab disapa Bu Sitsun. Beliau teman lama ibu saya sekaligus guru Bahasa Indonesia di SMP 2. Seingat saya, Bu Sitsun adalah tipikal guru yang tegas dan to the point, dengan nada bicara yang selalu terdengar seperti instruksi.
Malam itu, beliau menghubungi saya melalui WhatsApp. Awalnya, beliau hanya meminta saya menulis kata pengantar untuk naskah cerpen yang hendak diajukan ke penerbit Telaga Ilmu dan nantinya akan diarsipkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun.
“Mas, tolong buatkan kata pengantar untuk cerpen saya ya. Judulnya Kesabaran Berbuah Manis. Ini cerita tentang perjuangan Bu Darmi, seorang pedagang sayur keliling yang hidup dalam kemiskinan. Bu Darmi ini orangnya sabar banget, Mas. Padahal banyak pembeli yang suka ngutang, tapi dia tetap tabah demi cita-cita kedua anaknya,” tulisnya di pesan.
Cerpen Bu Sitsun terdengar sederhana, sangat sederhana. Sebagai seseorang yang cukup sering dimintai tolong menulis, saya pikir ini tugas ringan. Hanya kata pengantar, pikir saya. Paling setengah jam selesai. Setelah menulis kata pengantar yang formal tapi tetap mengalir, saya mengirimkan hasilnya ke email Bu Sitsun.
Tugas selesai? Ternyata tidak.
Sekitar pukul tujuh malam, pesan lain dari Bu Sitsun masuk. Nada tulisannya lebih mendesak. “Mas, cerpen saya masih kurang panjang. Baru 8 halaman. Dinas minta minimal 20 halaman. Bisa tolong dibantu, Mas? Harus dikirim malam ini.”
Saya membaca pesan itu dua kali, memastikan tidak ada yang tipo atau salah ketik. Kenyataannya, Bu Sitsun benar-benar meminta saya mengembangkan cerpen sebanyak 20 halaman–menambah 12 halaman lagi dalam satu malam. Itu bukan permintaan biasa. Dalam dunia kepenulisan, ini seperti meminta seorang koki menyulap mi instan jadi makanan bintang lima dalam waktu lima menit.
Kata ibu, biasanya kalau ada guru yang minta tolong seperti ini, mereka akan memberikan ceperan sebagai tanda terima kasih. Tapi, ya, saya tidak mau terlalu berharap karena berharap itu menyakitkan.
Setelah memantapkan hati, saya bersiap memulai tugas malam itu. Istri saya, yang tahu betul bahwa saya tidak bisa bekerja tanpa kopi, membuatkan secangkir kopi pahit untuk saya. Aroma kopinya pekat, seperti tanda bahwa malam itu akan panjang. Di sebelah kopi, saya meletakkan sebungkus rokok Tusso, merek murah yang biasa menemani saat-saat genting seperti ini.
Saya menyalakan rokok pertama, menghela napas panjang, lalu membuka naskah cerpen bertajuk Kesabaran Berbuah Manis. Cerita itu cukup sederhana, mungkin terlalu sederhana. Bu Darmi digambarkan sebagai sosok pekerja keras yang penuh kesabaran. Ia berjuang menghadapi kemiskinan dan pelanggan-pelanggan yang suka berutang, tapi tetap tabah demi kedua anaknya yang bercita-cita menjadi arsitek.
Cerita berakhir dengan anak-anak Bu Darmi mendapatkan beasiswa lalu berhasil jadi arsitek. Sayangnya, cerita berhenti begitu saja, tanpa konflik yang menonjol atau penutup yang kuat.
Saya menghela napas. Untuk memperpanjang cerpen ini, saya harus memberikan lebih banyak detail dan konflik. Saya menyeduh kopi lagi, menyalakan rokok kedua, dan mulai mengetik.
Langkah pertama adalah menambahkan detail latar. Saya mulai menggambarkan aktivtas Bu Darmi: Ia bangun sebelum subuh, menyiapkan dagangannya dengan cahaya lampu minyak. Sepeda tuanya saya deskripsikan lebih rinci—berkarat di sana-sini, dengan keranjang anyaman bambu yang sudah sobek di beberapa bagian.
Saya juga menggambarkan bagaimana pelanggan Bu Darmi kerap berutang dengan alasan klise. Ada seorang ibu, yang selalu mengatakan, “Bayarnya besok, Bu Darmi, suami belum gajian.” Ada pula ibu lain, pelanggan yang suka ngutang tapi belanja paling banyak. Adegan ini saya buat sedikit lucu, tapi tetap mencerminkan perjuangan Bu Darmi.
Untuk memperpanjang cerita, saya juga memperkuat sisi emosional anak-anak Bu Darmi. Ada adegan di mana anak sulungnya, Sulthon, mengidam-idamkan sepatu baru buat dipakai sekolah. Sepatunya yang lama sudah rusak, dan berlubang di beberapa sisi.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika saya selesai. Naskah yang tadinya 8 halaman kini menjadi 20 halaman lebih, lengkap dengan konflik tambahan, karakter yang lebih hidup, dan detail yang memperkuat suasana cerita. Dengan rasa lega, saya mengirimkan hasilnya ke email Bu Sitsun, lalu merebahkan diri di kursi.
Keesokan harinya, Bu Sitsun mengirim pesan singkat. “Terima kasih banyak, Mas. Naskahnya sudah saya kirim ke Dinas.” Menerima pesan itu, saya berdehem sejenak, lalu menyulut rokok Tusso yang hanya bersisa satu batang saja. Dalam hati, saya berkata, “Agaknya, ceperan saya terbilang cukup besar hingga saya tak bisa membayangkan, mau dipakai apa uang 2 M itu.”



