Mengapa Jadi Morning Person Bisa Bikin Hidup Bahagia?

Morning Person

Bangun pagi selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Ya, meskipun terkadang terasa seperti topik lama yang terus diulang-ulang. Saya ingat, banyak orang menjadikan bangun pagi sebagai bagian dari resolusi tahun baru, tapi entah kenapa selalu gagal di tengah jalan.

Bagi saya, cerita soal bangun pagi sedikit berbeda. Saya bukan tipe orang yang perlu berjuang keras untuk membuka mata saat pagi menjelang. Sebaliknya, saya adalah orang yang hampir selalu terjaga lebih awal–bahkan jika malam sebelumnya saya baru tidur tiga jam saja. Tubuh saya seperti memiliki alarm biologis yang sulit untuk diabaikan.

Sebenarnya, ini adalah sebuah anugerah sekaligus tantangan. Anugerah, karena saya mendapatkan waktu ekstra di pagi hari yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Tantangan, karena dengan tidur yang terbatas, tubuh kadang menuntut saya untuk istirahat lebih lama. Namun, sejauh ini, saya merasa bahwa kebiasaan bangun pagi memberikan lebih banyak manfaat daripada mudharatnya.

Ketika orang lain masih terlelap, saya sering kali sudah memulai aktivitas. Di pagi hari, suasananya sangat berbeda. Udara terasa lebih segar, belum tercemar oleh aktivitas manusia. Jalanan masih sepi, dan dunia terasa begitu damai. Saya biasanya memanfaatkan waktu ini untuk sekadar merenung, menuliskan ide-ide yang muncul, atau merencanakan hal-hal yang ingin saya capai hari itu. Saya kerap kali mendapatkan inspirasi untuk tulisan-tulisan saya.

Produktivitas sebenarnya bukanlah satu-satunya alasan mengapa bangun pagi begitu berarti. Ada hal lain yang lebih personal dan mendalam: Perasaan bahwa saya memiliki kontrol penuh atas waktu saya. Bangun lebih awal memberi saya ruang untuk bernapas, untuk menikmati momen tanpa terburu-buru. Di kala orang lain baru memulai harinya, saya sudah melangkah sedikit lebih maju.

Menjadi seorang “morning person” bukan sekadar kebiasaan. Ia merupakan identitas personal. Istilah ini merujuk pada mereka yang merasa lebih produktif, energik, dan fokus di pagi hari. Morning person acap kali memanfaatkan waktu pagi untuk melakukan hal-hal yang penting sebelum distraksi dari luar mulai berdatangan. Sebaliknya, ada juga tipe “night owl,” yaitu orang yang lebih aktif di malam hari.

Salah satu manfaat terbesar dari menjadi morning person adalah peningkatan kesehatan mental. Pagi hari yang tenang memberikan ruang untuk introspeksi dan relaksasi. Saya sering menggunakan waktu ini untuk meditasi atau sekadar bersyukur atas apa yang saya miliki. Dengan memulai hari dalam keadaan pikiran yang positif, saya merasa lebih mampu menghadapi tantangan yang muncul sepanjang hari.

Selain itu, bangun pagi juga memungkinkan saya untuk menjalankan gaya hidup yang lebih sehat. Saya bisa menyempatkan diri untuk sarapan bergizi. Sarapan yang baik juga berperan dalam meningkatkan konsentrasi dan suasana hati. Ditambah lagi, olahraga ringan di pagi hari membantu tubuh saya supaya tetap bugar dan segar.

Baca juga: Menulis untuk Apa?

Namun, perjalanan untuk menjadi seorang morning person bukan tanpa hambatan. Saya memahami betul bahwa tidak semua orang bisa dengan mudah beradaptasi dengan kebiasaan ini. Ada orang yang merasa sulit untuk bangun pagi karena berbagai alasan, seperti insomnia, stres, atau gaya hidup yang sibuk. Tapi, saya percaya, dengan sedikit usaha dan perubahan kecil, siapa pun bisa mencoba menjadi manusia pagi.

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan menciptakan rutinitas pagi yang menyenangkan. Saya selalu memulai pagi dengan membuat secangkir kopi favorit saya. Ritual sederhana ini memberikan rasa nyaman dan menjadi semacam “hadiah” bagi diri saya sendiri. Setelah itu, saya biasanya meluangkan waktu untuk membaca buku atau menulis. Aktivitas ini membantu saya merasa lebih terhubung dengan diri sendiri sebelum beralih ke tanggung jawab sehari-hari.

Selain rutinitas, kualitas tidur juga sangat berpengaruh. Meskipun saya sering tidur larut malam, saya berusaha memastikan bahwa tidur saya berkualitas. Salah satu caranya adalah dengan menciptakan lingkungan tidur yang mendukung, seperti menggunakan bantal yang nyaman, menjaga suhu ruangan tetap sejuk, dan menghindari cahaya yang terlalu terang.

Ada juga aspek sosial dari menjadi morning person yang jarang dibahas. Ketika saya bangun lebih awal, saya sering merasa memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Misalnya, saya bisa mengobrol dengan istri saya sambil sarapan, mengobrol dengan ibu saya yang sibuk menyapu halaman, atau main kejar-kejaran dengan kucing kesayangan saya.

Bagi sebagian orang, bangun pagi merupakan momen untuk mendekatkan diri dengan alam. Saya sering mendengar cerita dari teman-teman yang suka bersepeda atau jogging di pagi hari. Mereka mengatakan bahwa kegiatan itu memberikan kesempatan untuk menikmati keindahan alam. Bahkan, hanya dengan membuka jendela dan menghirup udara segar di pagi hari, saya merasa lebih terhubung dengan dunia sekitar.

Penting juga untuk diingat bahwa menjadi morning person bukan berarti harus mengorbankan kebutuhan tidur. Tidur yang cukup tetap menjadi prioritas utama. Jika kamu merasa kelelahan karena bangun terlalu pagi, jangan ragu untuk menyesuaikan jadwal tidur. Istirahat yang cukup adalah kunci untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan.

Baca juga: Meningkatkan Kapasitas Memori melalui Otak Kedua

Manfaat dari bangun pagi sebenarnya lebih banyak daripada sekadar produktivitas. Salah satu yang paling saya nikmati adalah kesempatan untuk melihat matahari terbit. Momen ini selalu terasa magis bagi saya, seolah-olah alam sedang memberikan pesan bahwa hari baru adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya juga merasa bahwa bangun pagi membuat saya lebih sadar akan waktu. Ketika hari masih panjang, saya lebih mampu mengatur prioritas dan menyelesaikan tugas tanpa terburu-buru.

Sebagai contoh, pagi hari sering saya manfaatkan untuk berolahraga ringan. Tidak perlu latihan yang berat, cukup dengan berjalan kaki atau melakukan beberapa gerakan peregangan. Aktivitas ini membantu saya merasa lebih segar secara mental.

Jika kamu sedang berusaha untuk membiasakan diri bangun pagi, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Mulailah dengan langkah kecil dan fokus pada konsistensi. Cobalah menikmati prosesnya. Ya, itu karena kebiasaan ini juga soal menghargai waktu dan menjalani hidup dengan lebih sadar.

Jadi, mengapa tidak mencoba? Bangun pagi mungkin terasa sulit di awal, tetapi percayalah, manfaat yang kamu rasakan jauh lebih besar. Suatu hari nanti, kamu mungkin akan bangun dengan senyum, bukan karena bunyi alarm yang berisik, tetapi karena kamu tahu bahwa hari baru ini ialah kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari dirimu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top