Saya selalu percaya bahwa setiap kucing punya kenakalan kecil yang menjadi ciri khasnya. Ada yang doyan mencakar sofa, ada yang gemar menjatuhkan barang, ada pula yang rajin buang air sembarangan. Namun, dari sekian banyak kenakalan kucing, tidak ada yang lebih merepotkan daripada kucing birahi. Inilah yang terjadi pada Punis, kucing saya yang pada suatu malam lenyap entah ke mana, hanya demi memenuhi panggilan alam yang lebih tua dari peradaban manusia.
Punis bukan tipe kucing yang gemar keluar rumah. Sejak kecil, ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam, tiduran di kursi atau mengejar bayangannya sendiri di lantai. Ia seperti saya, lebih menikmati kesendirian dan keheningan daripada hingar-bingar dunia luar. Namun, saya lupa bahwa birahi adalah panggilan yang sulit dilawan–bahkan oleh Punis yang selama ini tampak tenang dan kalem.
Malam itu, saya mendengar suara melengking dari luar jendela. Suara itu lebih mirip konser heavy metal kucing: serak, panjang, dan menggetarkan bulu kuduk. Saya mengabaikannya, mengira itu hanyalah perkelahian antar kucing jalanan biasa. Sialnya, saat saya menoleh ke sudut rumah tempat Punis biasa tidur, dia tidak ada. Saya memanggil namanya, mencari ke bawah meja, ke belakang lemari, bahkan sampai ke dapur. Tidak ada.
Di sinilah saya mulai panik. Kucing rumahan yang tidak terbiasa keluar biasanya akan kesulitan mencari jalan pulang. Saya keluar rumah, membawa senter, menyusuri gang-gang sempit dengan harapan menemukan Punis dalam keadaan baik-baik saja. Setiap saya memanggil namanya, yang saya dapat hanya balasan tatapan curiga dari kucing-kucing lain yang sedang bertengger di pagar rumah orang.
Dalam kepanikan itu, saya pun melakukan apa yang biasa dilakukan manusia modern saat kehilangan sesuatu: membuka Google. Saya mulai mengetik kata kunci seperti “kenapa kucing kabur dari rumah,” “berapa lama kucing akan pulang kalau hilang,” dan “tanda-tanda kucing tersesat.”
Hasil pencarian membuat saya semakin resah. Rupanya, kucing yang sedang birahi bisa pergi sejauh beberapa kilometer hanya untuk mencari pasangan. Ada yang pulang dalam semalam, ada yang butuh waktu berhari-hari, dan yang lebih mengerikan—ada yang tidak kembali sama sekali.
Saya membaca berbagai cerita orang-orang yang kehilangan kucingnya karena birahi, mulai dari yang menemukan kucingnya dalam keadaan lelah dan kurus, hingga yang hanya bisa pasrah karena kucingnya tak pernah pulang. Membayangkan kemungkinan terakhir itu membuat dada saya semakin sesak.
Saya terus menggulir layar, berharap menemukan solusi ajaib yang bisa membuat Punis tiba-tiba muncul di depan pintu rumah dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, tentu saja, tidak ada solusi instan untuk hal seperti ini. Yang ada hanyalah saran untuk mencari di sekitar rumah, memanggil namanya, dan menunggu dengan penuh kesabaran
Kepanikan saya ternyata menular ke ibu saya. Begitu tahu Punis tidak ada, ibu langsung gelisah. Padahal, biasanya beliau tidak terlalu peduli dengan tingkah laku kucing di rumah, tapi entah kenapa kali ini beliau ikut panik. Barangkali, karena sudah terbiasa melihat Punis berseliweran di rumah dan mendengar suara dengkurannya saat tidur siang.
Tanpa banyak bicara, ibu langsung keluar rumah dengan sandal jepit yang setengah copot, menenteng senter kecil, dan mulai bertanya ke para tetangga. “Pak RT, lihat kucing saya nggak? Namanya Punis, yang belang putih oranye itu.” Pak RT hanya menggeleng sambil mengisap rokoknya. “Nggak lihat, Bu. Mungkin main ke rumah Bu Eni?”
Ibu saya pun beranjak ke rumah Bu Eni, lalu ke rumah Bu Siti, lalu ke rumah-rumah lainnya, tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang melihat Punis sejak semalam. Bahkan, si Budi, anak tetangga yang sering main dengan kucing-kucing liar di gang, juga mengaku tidak melihatnya. Saya yang mengikuti di belakang ibu semakin merasa bersalah. Kenapa saya tidak lebih waspada? Kenapa saya biarkan Punis keluar begitu saja?
Keesokan harinya, saya masih belum menemukan Punis. Saya mulai berpikir macam-macam: Apakah dia tersesat? Apakah dia diculik oleh manusia yang jatuh cinta pada pesonanya? Atau yang lebih buruk, apakah dia kalah duel demi memperebutkan betina dan kini terdampar di sudut gang dalam keadaan babak belur? Pikiran-pikiran itu menghantui saya sepanjang hari, membuat saya tidak fokus bekerja.
Ibu saya pun mulai menyerah. “Ya udahlah, mungkin nanti dia pulang sendiri,” katanya dengan pasrah. Tapi, dari raut wajahnya, saya tahu bahwa beliau juga sedih. Sebab, bagaimanapun juga, Punis sudah seperti bagian dari keluarga kecil kami.
Barulah di petang harinya, saat saya hendak menutup pagar, saya mendengar suara lemah dari semak-semak depan rumah. Suara yang nyaris tak terdengar itu berasal dari sosok yang tampak lebih mengenaskan daripada pengembara yang kembali dari medan perang. Punis muncul dengan bulu acak-acakan, mata sedikit sayu, dan aroma yang mengingatkan saya pada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar tanah dan debu. Seperti lelaki yang baru saja pulang dari pelarian asmara, dia hanya bisa menatap saya dengan wajah penuh penyesalan.
Saya tidak tahu apakah dia berhasil mendapatkan apa yang dia cari atau justru mengalami kekalahan memalukan di dunia kucing. Yang jelas, setelah kejadian itu, Punis berubah. Dia lebih sering duduk termenung, seperti seorang filsuf yang merenungi kesalahan masa lalunya. Mungkin dia sadar bahwa petualangan birahi tidak selalu berakhir dengan kemenangan, atau mungkin dia hanya terlalu lelah untuk mengulanginya lagi.
Petang itu, ketika Punis akhirnya tidur di pojokan rumah, saya melihatnya dengan perasaan campur aduk. Dia masih Punis yang sama, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang telah berubah. Mungkin saja dia belajar bahwa tidak semua petualangan harus dijalani. Atau mungkin dia hanya belum cukup tidur. Yang pasti, bagi saya, kejadian ini menjadi bukti bahwa birahi bisa membuat siapa saja kehilangan arah—termasuk kucing yang biasanya lebih suka berdiam diri di rumah.



