Perihal Mengelola Emosi dan Mengendalikan Diri

Mengelola Emosi

Saya pernah mendengar nasihat lama bahwa kalau ingin mengetahui kesabaran seseorang, lihatlah bagaimana ia bereaksi saat lapar, mengantuk, atau menghadapi sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi. Nah, saya sendiri sudah membuktikan bahwa ketiga hal itu adalah kombinasi yang sangat mematikan.

Suatu sore, perut saya sedang lapar-laparnya, mata sudah setengah berat karena kurang tidur, dan saya baru saja menanak nasi dengan harapan mendapatkan sepiring nasi pulen sempurna. Akan tetapi, begitu tutup rice cooker dibuka, yang saya temukan adalah nasi yang kelembekan. Istri saya yang melihat hal itu cuma berkomentar ringan, “Lain kali airnya dikurangi, ya?”

Entah kenapa, kata-kata itu terasa seperti letupan petasan di kepala saya. Tiba-tiba, saya merasakan telinga panas, dada sesak, dan dalam satu gerakan spontan, panci yang malang itu saya banting ke lantai. Setelah itu, saya diam. Istri saya juga diam. Panci itu apalagi, lebih diam lagi karena sudah penyok.

Kalau dipikir-pikir, kenapa saya bisa marah hanya karena nasi kelembekan? Apa dosa butiran beras itu sehingga saya sampai harus menghukumnya dengan murka yang berlebihan? Setelah saya renungkan, rupanya bukan karena nasi. Nasi itu hanya pemantik.

Ada banyak hal yang diam-diam saya pendam, yang tanpa sadar saya biarkan menumpuk di kepala. Mungkin soal pekerjaan yang sedang banyak tekanan, mungkin soal ekspektasi sosial yang menumpuk di pundak, mungkin juga soal kelelahan yang tak kunjung saya akui. Dan seperti panci yang terlalu lama dipanaskan, emosi saya akhirnya mendidih, meledak, dan menyembur ke tempat yang salah.

Baca juga: Kenangan Masa Kecil yang Ternyata Penuh Kebohongan Orang Dewasa

Kita sering mengira bahwa emosi itu datang tiba-tiba. Padahal, sering kali ia sudah ada di sana, mengendap pelan-pelan, seperti jelaga di cerobong asap. Tidak ada yang langsung marah tanpa sebab. Marah itu seperti benih pohon. Ia tumbuh, berakar, lalu tiba-tiba muncul ke permukaan saat ada pemicu yang tepat.

Bisa jadi itu nasi yang kelembekan, bisa juga karena lupa membawa uang parkir, atau gara-gara WiFi mati saat lagi asyik streaming. Dalam kasus saya, nasi itu hanya perwakilan dari segala tumpukan perasaan yang selama ini tidak saya urus dengan baik.

Mengelola emosi bukan perkara menahan atau membiarkannya meledak begitu saja. Karena kalau ditahan terus, ia bisa berubah jadi penyakit; kalau dilepaskan tanpa kendali, ia bisa melukai orang-orang yang tidak bersalah. Maka, mengelola emosi itu lebih mirip seperti mengatur api kompor gas. Kalau apinya terlalu kecil, masakan bisa matang lama atau malah basi. Tapi kalau apinya terlalu besar, ya seperti panci saya tadi, bisa gosong, penyok, atau malah terbakar.

Lantas, bagaimana cara mengelola emosi dengan sehat? Kalau saya, ada beberapa cara yang saya pakai. Pertama, mengenali gejalanya. Saya mulai sadar bahwa sebelum meledak, saya biasanya merasa dada sesak dan napas lebih pendek. Kalau sudah begitu, saya tahu saya harus menjauh sejenak, mengambil jarak dari pemicu kemarahan. Kedua, mengalihkan perhatian.

Bagi saya, menggambar sketsa kucing atau mendengarkan musik instrumental bisa jadi pereda yang ampuh. Kadang, berjalan-jalan keluar tanpa tujuan juga cukup membantu. Yang ketiga, dan ini yang paling penting, adalah mengomunikasikannya. Saya harus jujur ke istri bahwa yang saya marahi bukanlah nasi, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Saya juga belajar dari pengalaman orang-orang sekitar. Seorang teman saya, misalnya, punya cara unik untuk mengatasi amarah: ia menulis surat untuk dirinya sendiri. Isinya? Semua keluh kesah dan kemarahan yang sedang ia rasakan, tapi ia tidak pernah mengirimkannya ke siapa pun. Ia hanya membiarkannya tersimpan di laptop atau bahkan mencetaknya untuk kemudian ia sobek sendiri. Lucu memang, tapi katanya itu efektif. Ada sesuatu yang terapeutik dalam menuliskan apa yang kita rasakan.

Baca juga: Menulis untuk Apa?

Di sisi lain, ada juga yang lebih memilih pendekatan fisik dalam mengatasi emosinya. Ada yang berolahraga, memukul samsak, atau bahkan sekadar lari pagi keliling kompleks untuk membuang energi negatif. Metode ini juga terbukti ampuh bagi sebagian orang. Gerakan fisik membantu tubuh melepaskan hormon endorfin yang bisa meredakan stres dan ketegangan.

Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan: Emosi itu bukan hanya marah saja. Kadang, kita juga harus belajar mengelola rasa kecewa, sedih, atau bahkan terlalu bahagia. Karena, percaya atau tidak, kebahagiaan yang berlebihan pun bisa membuat kita ceroboh dalam mengambil keputusan. Mengelola emosi berarti memahami kapan harus merespons, kapan harus menahan, dan kapan harus membiarkan perasaan itu mengalir dengan sendirinya.

Kita sering lupa bahwa emosi itu bukan musuh, melainkan alat komunikasi. Kalau kita bisa mengelolanya dengan baik, ia bisa jadi kompas yang menunjukkan apa yang benar-benar sedang terjadi dalam diri kita. Namun, kalau kita biarkan ia berantakan, ia bisa jadi seperti panci penyok di dapur kontrakan saya: Hanya meninggalkan bekas luka dan rasa bersalah yang seharusnya bisa dihindari.

Dan, tentu saja, saya sekarang lebih berhati-hati dengan panci di dapur. Bukan karena takut panci penyok lagi, tapi karena saya tahu, lain kali mungkin bukan panci yang jadi korban, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Hendy Pratama

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top