Menulis itu Susah? Mulailah dari Mencatat

Mencatat

Ada satu kebiasaan kecil yang sering diremehkan, padahal dampaknya besar: Mencatat. Aktivitas sepele ini sering dianggap sebagai tugas bocah sekolah atau pekerja kantoran yang rajin, padahal ia adalah jalan sunyi yang bisa menuntun kita menjadi penulis yang lebih baik. Saya berani bilang, jika ingin membiasakan menulis, mulailah dari mencatat.

Mencatat itu seperti menyicil masa depan. Kita menulis poin-poin kecil hari ini agar di masa depan kita tidak lupa. Catatan adalah investasi, dan seperti halnya investasi, ia mungkin tidak terasa manfaatnya dalam waktu dekat, tapi akan jadi tabungan berharga di kemudian hari. Bahkan, bisa jadi penentu apakah kita akan tetap menulis atau menyerah di tengah jalan.

Orang-orang yang mengaku sulit menulis biasanya punya dua keluhan klasik: “Nggak ada ide” dan “Nggak bisa mulai.” Padahal, kalau rajin mencatat, dua masalah itu bisa dikurangi setengahnya. Bayangkan, kalau setiap hari kita mencatat satu hal kecil—entah obrolan warung kopi, keluhan tetangga soal harga beras, atau kenangan tentang guru SD yang galak—dalam setahun kita punya 365 potongan cerita. Dari situ, tinggal memilih dan mengembangkan.

Saya sendiri pernah mengalami ini. Bertahun-tahun saya merasa bahwa menulis itu pekerjaan besar yang harus dimulai dengan pemanasan serius: menyiapkan kopi, membuka laptop, menyalakan musik yang pas, dan menunggu inspirasi datang seperti malaikat turun dari langit. Hasilnya? Saya lebih sering bengong daripada menulis. Baru belakangan saya sadar, menulis itu bukan soal menunggu, tapi soal menangkap. Dan cara paling efektif menangkap ide adalah dengan mencatat.

Mencatat juga melatih kita untuk peka terhadap detail. Tanpa kebiasaan ini, banyak hal akan menguap begitu saja. Saya masih ingat, dulu ibu saya suka mengumpulkan daftar harga barang belanjaan di secarik kertas kecil yang selalu diselipkan di dompet. Kelihatannya sepele, tapi kebiasaan itu membuat beliau hafal betul fluktuasi harga pasar, bahkan bisa menebak kapan harga beras akan naik. Mencatat membuat kita lebih tajam dalam melihat pola dan menghubungkan titik-titik kecil menjadi cerita utuh.

Selain membantu mengingat, mencatat juga bisa menjadi sarana refleksi. Dengan membaca kembali catatan yang kita buat, kita bisa melihat bagaimana cara berpikir kita berkembang dari waktu ke waktu. Terkadang, ide yang dulu terasa biasa saja bisa menjadi inspirasi besar ketika dilihat dari perspektif yang lebih matang.

Baca juga: Apa Bedanya Kata Ganti “Dia” dan “Ia”?

Saya juga percaya bahwa mencatat adalah bentuk dokumentasi sejarah personal. Catatan kecil yang kita buat hari ini bisa menjadi kenangan berharga di masa depan. Tidak perlu menunggu menjadi orang terkenal untuk memiliki memoar. Setiap orang berhak mencatat perjalanan hidupnya, entah itu pengalaman sehari-hari, pelajaran yang didapat, atau sekadar renungan sederhana.

Bahkan, jika kita perhatikan, banyak karya besar yang berawal dari catatan-catatan kecil. Novel-novel terkenal, esai inspiratif, dan bahkan jurnal ilmiah bermula dari coretan tangan yang mungkin awalnya dianggap remeh. Leonardo da Vinci dikenal karena buku catatannya yang penuh sketsa dan ide-ide brilian. Begitu pula dengan para jurnalis dan penulis besar yang selalu membawa buku catatan ke mana-mana untuk menangkap momen berharga.

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Henry David Thoreau, “Tidak ada catatan yang terlalu sepele jika itu mengandung kebijaksanaan sekecil apa pun.” Kutipan ini mengingatkan kita bahwa bahkan hal-hal yang tampak sepele dalam catatan kita hari ini bisa menjadi sesuatu yang berharga di masa depan. Setiap catatan adalah jejak kecil dari pemikiran kita yang terus berkembang.

Menulis juga bisa menjadi terapi mental. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa mencatat perasaan dan pengalaman pribadi dapat membantu meredakan stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Dengan mencatat, kita bisa menuangkan emosi dan beban pikiran dalam bentuk kata-kata, sehingga tidak hanya menjadi penulis yang lebih baik, tetapi juga individu yang lebih sehat secara mental.

Menulis juga dapat membantu kita menjadi lebih produktif. Dengan mencatat daftar tugas harian, rencana proyek, atau sekadar target pribadi, kita bisa lebih mudah melacak kemajuan dan mengatur prioritas. Banyak orang sukses yang memiliki kebiasaan mencatat agenda dan target mereka, karena hal ini membantu mereka tetap fokus dan terorganisir.

Tidak hanya itu, mencatat juga bisa menjadi alat untuk memperkuat kreativitas. Ketika kita mencatat ide-ide kecil, kita memberi kesempatan bagi otak untuk menggali dan mengembangkan ide tersebut lebih jauh. Ide yang terlihat biasa saja pada awalnya bisa tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa ketika ditulis dan dipikirkan lebih lanjut.

Ada juga aspek sosial dari mencatat. Dalam pertemuan atau diskusi, orang yang rajin mencatat sering kali lebih diingat karena mereka mampu mengingat detail yang terlewatkan oleh orang lain. Catatan yang baik juga bisa menjadi referensi bagi orang lain, membantu tim dalam bekerja lebih efektif, atau sekadar menjadi pengingat dalam kelompok belajar.

Jadi, kalau ada yang ingin menulis tapi bingung harus mulai dari mana, saya selalu menyarankan hal sederhana: mulailah dari mencatat. Jangan terlalu muluk-muluk ingin langsung menulis esai atau novel. Cukup sediakan buku kecil atau aplikasi catatan di ponsel, lalu tulis hal-hal kecil yang menarik perhatian. Bisa jadi, hari ini kita hanya mencatat satu kalimat pendek—misalnya, “Di perempatan tadi ada bapak-bapak jualan balon dengan muka seperti pesakitan.” Tapi siapa tahu, tiga bulan kemudian, kalimat itu bisa berkembang menjadi cerita yang lebih panjang dan berwarna.

Baca juga: Mengenal Konjungsi (Kata Sambung) dalam Kalimat

Menulis itu tidak harus langsung sempurna. Yang penting adalah memulainya. Dan mencatat adalah langkah paling mudah dan paling sederhana untuk itu. Jadi, jika ingin membiasakan menulis, jangan ragu untuk mulai dari yang kecil. Mulai dari mencatat. Karena setiap tulisan besar, awalnya adalah catatan kecil yang dibiarkan tumbuh dan berkembang.

Akhirnya, kebiasaan mencatat bukan hanya untuk mereka yang bercita-cita menjadi penulis. Siapa saja bisa mendapatkan manfaatnya. Mahasiswa bisa mencatat ide dari kuliah untuk memudahkan belajar. Pekerja bisa mencatat strategi yang efektif di tempat kerja. Bahkan ibu rumah tangga bisa mencatat resep-resep andalan agar tidak terlupakan. Mencatat adalah kebiasaan universal yang bisa membawa manfaat bagi siapa saja.

Jadi, jangan pernah meremehkan catatan kecil yang kita buat. Siapa tahu, suatu hari nanti, catatan itu bisa menjadi bagian dari sejarah hidup kita yang paling berharga.

Hendy Pratama

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top