Dalam sebuah wawancara, Muhidin M. Dahlan pernah berkata bahwa belajar menulis esai itu dimulai dengan belajar mengomentari hal-hal kecil di sekitar kita. Ucapan itu terdengar sederhana, tapi bagi siapa pun yang pernah berhadapan dengan halaman kosong, nasihat ini seperti penyelamat yang melempar pelampung ke laut lepas.
Menulis esai, apalagi yang renyah dibaca, bukan perkara gampang. Tapi, seperti kata George Orwell, “Good prose is like a windowpane.” Esai yang baik seharusnya seperti jendela kaca yang bening—memberi kita pandangan yang segar, jernih, dan kadang mengejutkan tentang dunia sekitar. Dan, jika mau jujur, dunia kita ini lebih banyak dipenuhi oleh hal-hal sepele ketimbang kejadian-kejadian monumental.
Ambil contoh dari tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma. Dalam banyak esainya, ia kerap kali memulai dari hal-hal kecil: secarik berita di koran, sepotong percakapan di warung kopi, atau bahkan pengamen jalanan. Hal-hal yang barangkali dianggap remeh itu diolahnya menjadi refleksi yang tajam dan menggugah. Inilah yang disebut Roland Barthes sebagai “makna kedua” dalam sebuah teks—ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar permukaan.
Jika kita ingin belajar menulis esai, kita bisa mulai dengan mengomentari hal-hal kecil di sekitar kita. Misalnya, sebungkus kerupuk di warung. Apa istimewanya kerupuk? Tidak ada. Tapi, jika diperhatikan lebih dalam, kerupuk adalah metafora yang sempurna untuk banyak hal: ekonomi rakyat, selera kelas pekerja, atau bahkan filosofi hidup—garing di luar, rapuh di dalam, tetapi tetap dinikmati oleh banyak orang.
Jonathan Swift, dalam “A Modest Proposal,” menulis esai satir yang bermula dari hal kecil: kemiskinan dan kelaparan di Irlandia. Alih-alih mengeluh secara langsung, ia menyusun argumen satir yang mengusulkan agar bayi-bayi miskin dijual sebagai makanan bagi orang kaya. Tentu saja, ini bukan usulan serius, tapi cara Swift menyampaikan kritiknya begitu halus dan tajam hingga para pembaca zaman itu terguncang.
Di Indonesia sendiri, kita mengenal esais-esais yang memulai refleksi mereka dari hal-hal sederhana. Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir sering kali berangkat dari berita-berita kecil, yang kemudian ia kaitkan dengan pemikiran filosofis atau refleksi historis. Agus Noor sering menulis esai dengan sentuhan humor dan ironi yang justru membuatnya semakin menggigit. Semua itu bermula dari kepekaan menangkap hal-hal kecil di sekitar.
Baca juga: Menulis itu Susah? Mulailah dari Mencatat
Montagne, bapak esai modern, tidak pernah menulis tentang peperangan besar atau revolusi. Sebaliknya, ia menulis tentang kebiasaan sehari-hari, tentang dirinya sendiri, tentang hal-hal yang mungkin tak masuk dalam sejarah besar. Tapi justru itulah esensi esai: pengamatan mendalam atas yang biasa.
Di era media sosial yang penuh dengan status panjang tentang politik dan teori-teori konspirasi, mungkin kita perlu kembali ke metode Montagne: menulis dari pengalaman sehari-hari. Apa pun bisa jadi bahan esai—sepatu yang semakin sempit, harga bakso yang naik, atau kebiasaan tetangga yang suka menyapu halaman saat fajar menyingsing. Yang diperlukan hanyalah kepekaan untuk melihat makna di balik yang sepele.
Saya sendiri pernah menulis esai hanya karena melihat kucing liar di pinggir jalan yang mengendus-endus plastik kosong. Dari situ, saya merenungkan bagaimana kehidupan kucing jalanan itu sebetulnya mencerminkan banyak hal: ketidakpastian hidup, ketangguhan, dan juga bagaimana manusia sering kali abai terhadap sesama makhluk hidup. Dalam beberapa paragraf, saya berhasil menghubungkan pengalaman sederhana itu dengan pemikiran yang lebih luas.
Atau, pernahkah kita memerhatikan lampu lalu lintas? Saya ingat pernah menghabiskan beberapa menit hanya untuk memikirkan bagaimana lampu merah, kuning, dan hijau itu mencerminkan psikologi manusia dalam mengambil keputusan. Merah berarti berhenti, kuning berarti ragu-ragu, hijau berarti jalan terus. Dan bukankah itu yang sering terjadi dalam hidup? Kita selalu berada dalam salah satu dari tiga kondisi itu—berhenti karena takut, ragu-ragu karena tak yakin, atau maju karena percaya diri.
Selain itu, benda-benda sehari-hari juga bisa menyimpan sejarah yang panjang. Lihatlah sendok dan garpu di rumah. Pernahkah kita berpikir bahwa alat makan ini dulunya adalah simbol status sosial di Eropa? Bahwa di beberapa budaya, makan dengan tangan lebih dihormati daripada menggunakan sendok? Hal-hal kecil ini menyimpan lapisan sejarah dan makna yang bisa diungkap lebih jauh dalam esai.
Baca juga: Menulis untuk Apa?
“Esai adalah jendela kecil ke dunia,” kata Zadie Smith. Ia adalah cara kita mengolah pengalaman, mengasah sudut pandang, dan menemukan kebaruan dalam keseharian. Seorang penulis esai tidak perlu menunggu kejadian luar biasa untuk menulis. Cukup dengan mengamati sekeliling, bertanya-tanya, dan membiarkan pikiran bermain-main.
Tentu, tantangan menulis esai bukan hanya pada menemukan topik, tetapi juga pada membentuk alur yang menarik. Bagaimana agar pembaca tetap bertahan hingga akhir? Saya pribadi percaya bahwa esai yang baik harus memiliki elemen kejutan. Entah itu melalui sudut pandang yang tidak terduga, humor yang halus, atau refleksi yang menyentuh.
Selain itu, esai yang menarik juga harus punya sentuhan personal. Ketika kita menulis dari pengalaman sendiri, pembaca akan lebih mudah terhubung. Karena pada akhirnya, meskipun esai adalah tentang pengamatan terhadap hal-hal di sekitar, esai juga harus mencerminkan siapa kita, bagaimana kita melihat dunia, dan bagaimana dunia mempengaruhi kita.
Maka, jika ingin belajar menulis esai, mulailah dengan yang kecil. Jangan remehkan percakapan sederhana di angkringan, suara pengamen di dalam bus, atau tukang cukur langganan yang selalu punya teori konspirasi baru setiap kali kita potong rambut. Karena dalam dunia yang terus bergerak cepat ini, kepekaan terhadap hal-hal kecil justru bisa menjadi jalan untuk memahami sesuatu yang lebih besar.
Dan, bukankah hidup itu sendiri terdiri dari hal-hal kecil yang, bila dirangkai dengan baik, bisa menjadi sebuah cerita yang penuh makna?



