Lebaran dan Harapan yang “Belum” Terwujud

lebaran dan sejumlah harapan

Kalau sudah masuk minggu terakhir Ramadan, suasana di Madiun itu biasanya mendadak berubah. Udara yang tadinya hening, tiba-tiba jadi terasa penuh beban. Bukan beban dosa ya—kalau itu mah sudah bawaan lahir—tapi beban ekspektasi. Di gang-gang sempit, suara gesekan ulekan bumbu di dapur mulai bersahut-sahutan dengan suara knalpot motor yang hilir mudik bawa belanjaan dari pasar.

Bagi saya, seorang karyawan swasta yang hidupnya diatur oleh kalender dan angka-angka di slip gaji—yang seringnya cuma numpang lewat, Lebaran itu bukan cuma soal spiritualitas. Lebaran menjelma jadi audit tahunan yang paling kejam.

Kita mulai dari urusan paling krusial: THR. Sebagai buruh kerah putih (yang kerahnya sudah mulai menguning karena keringat dan polusi), THR itu ibarat tamu agung yang kita tunggu-tunggu selama sebelas bulan. Kita bayangkan dia bakal datang bawa koper penuh uang, lalu kita bisa hidup makmur bak sultan. Tapi ndilalah, kenyataannya THR itu cuma kayak orang numpang pipis di pom bensin: Masuk sebentar, keluar dengan cepat, dan meninggalkan sisa-sisa bau yang bikin kita cuma bisa menghela napas.

Begitu angka THR mendarat di rekening, daftar “pembayaran” sudah antre panjang kayak antrean sembako murah. Bayar zakat, kasih uang kepyar buat orang tua, beli baju istri, sampai urusan beli jajan lebaran yang harganya tiba-tiba jadi nggak masuk akal. Masa iya, nastar yang isinya selai nanas dikit banget itu harganya bisa buat beli bensin motor sebulan? Tapi ya sudahlah, namanya butuh, kita sikat saja.

Di sinilah seninya menjadi karyawan swasta. Kita dipaksa jadi ahli akuntansi dadakan. Kita hitung sedemikian rupa supaya sisa saldo di ATM nggak sampai menyentuh angka “biaya administrasi”. Karena kalau sampai menyentuh angka itu, rasanya martabat kita sebagai lelaki dewasa yang sudah bekerja bertahun-tahun langsung rontok begitu saja.

Nah, drama yang sebenarnya itu dimulai pas hari H. Ruang tamu rumah orang tua saya di Madiun itu mendadak berubah jadi panggung teater. Kursi kayu yang biasanya sepi, sekarang penuh dengan saudara-saudara jauh yang setahun sekali baru kelihatan batang hidungnya.

Di momen inilah, “audit nasib” dimulai. Biasanya, ada saja sepupu yang datang dengan gaya yang mak jegagik mewah. Plat nomor mobilnya “B”, mengilat kayak habis diludahi malaikat, dan begitu turun, bau parfumnya langsung memenuhi satu rukun tetangga. Dia bakal cerita soal penghasilannya yang nilainya bisa buat beli tanah di pinggiran Madiun, atau soal jabatan barunya yang bikin dia harus sering-sering ke luar negeri.

Saya? Saya biasanya cuma bisa duduk di pojokan, pura-pura asyik nyemilin rengginang yang ada di dalam kaleng biskuit. Dalam hati, saya ngebatin, “Lha wong kerjaan saya saja tiap hari cuma berhadapan sama laptop, kok ya nasibnya jauh banget sama sepupu saya ini.” Iri itu manusiawi, apalagi kalau kita merasa sudah kerja banting tulang, berangkat pas matahari masih malu-malu dan pulang pas bulan sudah bosan nongol, tapi hasilnya ya begini-begini saja.

Kita dipaksa buat ikut senang dengan keberhasilan saudara, padahal hati kecil kita lagi menjerit-jerit minta keadilan ekonomi. Lebaran yang katanya hari kemenangan, buat saya seringnya jadi hari di mana saya merasa kalah telak secara statistik.

Sebenarnya, kalau urusan ekonomi itu bisa disembunyikan dengan baju baru atau senyum yang dipaksakan, ada satu hal yang nggak bisa ditutupi dengan apa pun. Ini adalah bagian paling tragis dari Lebaran saya dalam beberapa tahun terakhir.

Di saat ruang tamu penuh dengan tangis bayi dan tawa anak-anak kecil yang lari-larian pamer mainan baru, saya dan istri cuma bisa jadi penonton. Sepupu-sepupu perempuan saya—yang usianya jauh di bawah saya—sekarang sudah sibuk nggendong anak. Mereka bahas soal merk popok yang bagus, soal anak yang sudah mulai MPASI, atau soal drama anak rewel seharian.

Sedangkan kami? Kami cuma bisa saling lirik, lalu pura-pura sibuk nanya ke keponakan, “Wah, mainannya bagus ya, beli di mana?” Padahal, dalam hati, ada ruang kosong yang rasanya lebih sunyi daripada kuburan di tengah malam.

Tiap kali ada saudara yang nanya, “Kapan nih nambah anggota baru? Sudah berapa tahun nikah?” rasanya jantung saya kayak berhenti berdetak sedetik. Pertanyaan itu mungkin bagi mereka cuma basa-basi basi, tapi buat kami, itu adalah proyektil yang menembus pertahanan batin yang sudah kami bangun susah payah. Mereka nggak tahu sudah berapa banyak dokter yang kami datangi, berapa banyak ramuan herbal pahit yang istri saya telan, dan berapa banyak doa yang kami langitkan di sepertiga malam sampai air mata habis.

Iri karena harta itu masih ada obatnya: kerja lebih keras atau cari sampingan. Tapi, iri karena anak? Itu urusannya langsung sama Sang Pencipta. Melihat foto keluarga besar di depan rumah, di mana semua orang menggendong anak kecuali kami berdua, itu adalah bentuk “kemiskinan” yang paling absolut. Kita bisa punya mobil mewah, jabatan tinggi di kantor, atau tabungan melimpah, tapi kalau rumah masih sepi dari suara tangis bayi, rasanya hidup ini kayak masakan kurang garam: Hambar.

*

Puncak dari segala “ujian nyali” di hari Lebaran itu biasanya terjadi pas sesi kumpul keluarga besar di ruang tamu. Suasananya itu lho, Bos, riuh banget. Bau minyak telon campur parfum melati, suara piring beradu dengan sendok, sampai obrolan soal harga tanah yang naik ugal-ugalan. Tapi di tengah keriuhan itu, mata saya mendadak terkunci pada satu sudut yang rasanya kayak jadi episentrum gempa batin saya siang itu.

Di sana, ada dua sepupu cewek saya, Kalpika dan Icha. Mereka duduk lesehan di karpet dengan gaya yang sangat “keibuan”. Kalpika nggendong anaknya yang masih bayi, sementara Icha juga nggak mau kalah, memangku si kecil yang pipinya kayak bakpao baru matang.

Yang bikin hati saya mak dheg itu pas mereka berdua mulai mendekatkan anak masing-masing. Mereka lagi asyik “saling kenalan”—maksudnya ngenalin anak-anaknya. “Ayo Sayang, ini lho Kakak Icha, kenalan dulu…” kata Kalpika sambil pegang tangan mungil bayinya. Icha pun menyahut dengan tawa renyah yang kedengarannya bahagia banget.

Duh, melihat pemandangan itu, rasanya kayak saya lagi nonton iklan asuransi pendidikan yang sangat sukses, tapi saya sendiri nggak punya polisnya. Mereka kelihatan begitu “genap”, begitu selesai dengan urusan pencapaian hidup sebagai perempuan.

Lalu, datanglah “serangan” yang paling telak. Ayah saya—lelaki yang biasanya pendiam dan cuma sibuk sama rokok kretek atau burung kicauannya—tiba-tiba mendekat. Wajahnya yang sudah mulai dihiasi kerutan itu mendadak cerah banget.

Beliau langsung mengulurkan tangan, minta izin buat nggendong Agam, anaknya Kalpika. Dan begitu si bayi berpindah ke pelukan Ayah, saya cuma bisa mematung. Ayah saya nampak jago banget nggendong dan ngudang-nya. Beliau ngajak main si kecil, cilukba, goyang-goyangin tangan, sampai ketawa-ketawa sendiri yang suaranya belum pernah saya dengar serenyah itu sepanjang tahun.

Melihat Ayah saya nggendong cucu (meski itu cucu dari keponakan, bukan dari saya), rasanya kayak ada ribuan jarum akupunktur yang menusuk ulu hati saya secara bersamaan. Ada rasa haru melihat beliau bahagia, tapi ada rasa bersalah yang lebih besar lagi karena bukan saya yang memberikan kebahagiaan itu.

Saya ini anak lelaki pertamanya, seorang karyawan swasta yang hidup buat mengangkat derajat keluarga, tapi belum bisa ngasih kebahagiaan yang paripurna buat mereka. Saya bisa kasih Ayah uang bulanan, saya bisa beliin beliau sarung baru tiap tahun, tapi saya belum bisa kasih apa yang sedang beliau peluk erat di ruang tamu itu.

Saya melirik istri saya yang duduk di sebelah. Beliau cuma menunduk, pura-pura sibuk merapikan ujung jilbabnya, tapi saya tahu matanya sudah mulai berkaca-kaca. Kami berdua jadi penonton paling setia di drama “Kebahagiaan Orang Lain” ini.

Iri? Jelas. Iri melihat orang tua kami harus “meminjam” kebahagiaan dari anak orang lain karena kami belum sanggup menyediakannya di rumah sendiri.

Saya menulis esai ini pun—setelah pertemuan keluarga berlalu—dengan sedikit meneteskan air mata. Dengan perasaan yang sama sekali sukar buat dijelasin ke orang-orang. Berkali-kali mengingat momen itu, berkali-kali pula saya menangis dan berusaha menguatkan diri dengan kalimat klasik: Sabar. Itu urusan saya dengan Sang Pencipta.

*

Sesi kumpul keluarga itu pun berakhir dengan foto bersama. Ayah saya tetap nggendong anak itu, tersenyum lebar ke arah kamera. Sementara saya dan istri berdiri di sampingnya, mencoba tersenyum sekuat tenaga, meski dalam hati kami sedang meratapi “kemiskinan” kami yang paling nyata.

Malamnya, setelah semua tamu pulang dan Ayah sudah tidur, saya cuma bisa duduk di teras sambil merokok pelan-pelan. Menatap langit Madiun yang sepi, sambil terus berharap: Semoga tahun depan, Ayah nggak perlu lagi meminjam anak orang lain buat merasakan rasanya jadi seorang kakek. Semoga tahun depan, keriuhan di ruang tamu itu bukan lagi suara anak sepupu saya, tapi suara anak saya sendiri yang bakal diperebutkan buat digendong. Yah, semoga saja. Selebihnya, saya serahkan ke Yang Maha Kuasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top