Judul esai ini mungkin membuat alis Anda terangkat. Apa hubungannya nyetir mobil dengan Rhoma Irama, si Raja Dangdut? Tapi percayalah, ada sesuatu yang istimewa dalam pengalaman saya ini.
Setiap minggu sore, ada ritual yang sudah jadi agenda wajib: belajar menyetir mobil di lapangan luas, sedikit berdebu, di pinggiran kota. Mobilnya bukan mobil terbaru, melainkan Honda Civic Genio keluaran 1992—mobil tua yang selalu setia mendampingi latihan saya.
Pelatih saya, Pak Har, ahli dalam segala urusan mobil. Dalam hal keterampilan mengemudi, ia luwes dan berpengalaman, seperti Rhoma Irama yang selalu mantap memegang mic di atas panggung. Pak Har punya bakat alamiah untuk menjelaskan gigi satu, gigi dua, kopling, gas, hingga berbagai teknik yang bagi saya seperti teka-teki yang rumit.
Kalau saya diibaratkan sebagai penyanyi dangdut pemula yang tiba-tiba disuruh membawakan lagu cinta di hadapan ribuan penonton, grogi saya pasti sama besarnya. Kadang tangan saya kaku, berkeringat dingin, bahkan jemari nyaris keseleo setiap kali harus menginjak kopling dengan tepat.
Saat pertama kali belajar kopling, mobil lebih sering mati daripada jalan. Setiap kali saya mencoba maju, mobilnya gemetar seperti sedang menikmati musik dangdut, lalu, krek—mati di tempat. Pak Har hanya tersenyum sabar dan berkata, “Rasakan iramanya. Kalau kamu bisa mengikuti iramanya, mobil ini bakal nurut.” Saya mengangguk, tapi dalam hati bingung setengah mati. Apa maksudnya irama di sini? Apakah ini pelajaran menyetir atau justru kursus musik?
Pernah juga saya belajar dengan teman, Wildan. Dia bilang, “Nyetir itu soal irama dan napas. Kalau kamu tegang, semuanya juga bakal kacau.” Lagi-lagi, kata “irama” muncul. Seolah-olah setiap orang yang mengajarkan saya ini adalah fans berat Rhoma Irama, hingga teori menyetir pun dihubungkan dengan “mengalun merdu.” Tetapi, demi kelancaran belajar, saya mengikuti saja nasihat mereka. Dengan penuh kehati-hatian, saya menarik napas dalam-dalam, berusaha menyeimbangkan kopling dan gas, dan – syukur! – mobil pun meluncur dengan mulus. Rasanya persis seperti ketika anak kecil berhasil mengayuh sepeda tanpa roda bantu untuk pertama kali. Ada euforia yang sulit dijelaskan.
Minggu demi minggu, saya mulai terbiasa. Latihannya tak lagi sekadar jalan lurus; saya mulai disuruh mencoba tikungan, tanjakan, dan bahkan “stop and go” di tengah tanjakan. Setiap kali itu pula, Wildan dengan setia memberikan nasihat, “Kendalikan napas. Kalau kamu panik, kopling dan gasmu juga ikut panik.” Dan betul saja, setiap kali saya terlalu fokus pada ketakutan, mobil ini mati di tempat. Tapi saat saya benar-benar rileks, saya merasakan keseimbangan yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin, seperti kata orang-orang, ada perasaan damai saat menemukan irama di tengah kerumitan.
Di saat-saat seperti ini, saya jadi teringat kebiasaan Ayah setiap pagi—selalu memutar lagu-lagu Rhoma Irama dengan volume keras sambil membersihkan halaman rumah. Dulu saya selalu menggerutu, merasa terganggu, tapi sekarang, nasihat “rasakan iramanya” dari Pak Har terus terngiang di kepala.
Ternyata, belajar nyetir mobil itu lebih dari sekadar menguasai kopling atau gas. Ia mengajarkan saya tentang ketenangan dan pengendalian diri. Seperti Rhoma Irama yang mengalir bersama irama musiknya, saya juga harus belajar mengalir, tahu kapan menekan, kapan melepaskan. Semakin sering latihan, saya mulai memahami ritme mobil ini.
Pak Har tidak bohong—mobil ini memang punya iramanya sendiri. Jika saya menekan kopling atau gas terlalu cepat atau lambat, mobil seolah merajuk, memberontak. Seolah-olah, belajar menyetir adalah tentang membangun dialog diam-diam antara saya dan mesin. Mobil ini, dengan caranya yang unik, “berbicara,” memberi tahu kapan saya harus mengencangkan pegangan atau mengendurkan.
Pada satu sore, saat saya sedang menyetir di jalan desa, terdengar samar-samar lagu dangdut dari rumah warga yang kami lewati. Sebuah lagu lawas yang dinyanyikan oleh Bang Haji Rhoma Irama. Mendengar itu, saya tersenyum, seolah ada sesuatu yang terhubung. Nasihat soal “irama” yang selalu ditekankan Pak Har dan Wildan kini terasa semakin masuk akal. Rhoma Irama tak hanya bernyanyi; ia mengajarkan keseimbangan antara melodi dan ritme, antara emosi dan kontrol.
Belajar menyetir, pada akhirnya, bukan sekadar menguasai teknik, melainkan sebuah pelajaran tentang menemukan keseimbangan antara kopling dan gas, antara ketegangan dan kelenturan. Setiap latihan membawa saya lebih dalam ke pelajaran yang jauh lebih besar. Mungkin, hidup pun tak jauh berbeda dengan nyetir mobil. Kita seringkali terburu-buru, ingin segera tancap gas tanpa memahami irama yang sebenarnya dibutuhkan. Namun, jika kita mau sedikit bersabar dan merasakan ritmenya, hidup mungkin akan lebih nurut.
Di penghujung latihan, saya mulai menyadari satu hal penting: bahwa menyetir mobil bukanlah tentang mengendalikan mesin secara sepihak, tapi soal menemukan irama di tengah semua ketidakpastian dan keterbatasan. Seperti halnya Rhoma Irama yang selalu tahu kapan mengalun dan kapan menahan nada, menyetir mengajarkan saya bahwa hidup juga adalah tentang menikmati setiap perjalanan, mengalir dalam irama yang kita temukan, dan menikmati tiap getaran di jalan yang berliku ini.



