Waktu kecil, hidup terasa begitu ajaib. Dunia seakan penuh hal-hal magis, dan apa pun yang keluar dari mulut orang dewasa adalah firman suci yang tidak terbantahkan. Namun, seiring bertambahnya usia, saya mulai menyadari bahwa banyak dari kenangan masa kecil saya ternyata penuh kebohongan.
Mari kita mulai dengan salah satu kebohongan klasik yang pernah dilontarkan hampir semua orang tua: “Kalau nggak habisin nasinya, nanti nasinya nangis.” Sebagai anak kecil, saya benar-benar percaya. Saya membayangkan butiran nasi di piring yang menangis pilu, suaranya lirih, menyayat hati. Dan membuat saya selalu berusaha menghabiskan nasi–kendatipun perut saya sudah kembung. Baru belakangan saya sadar, orang tua hanya ingin supaya kita tidak menyia-nyiakan makanan. Nasinya? Tentu tidak pernah menangis.
Ada lagi kebohongan tentang larangan memotong kuku di malam hari. “Jangan potong kuku malam-malam, nanti rejekimu seret!” Kalimat itu membuat saya waswas. Saya takut kalau suatu hari hidup saya susah gara-gara kuku yang terpotong salah waktu. Padahal, alasan sebenarnya mungkin lebih sederhana: Di zaman dulu, penerangan terbatas, dan memotong kuku di malam hari berisiko melukai jari. Sebuah akal-akalan yang brilian, kalau dipikir-pikir.
Yang membuat saya semakin menyadari betapa cerdiknya orang dewasa adalah kebohongan-kebohongan yang berhubungan dengan makanan. Contohnya, nenek saya pernah berkata, “Kalau makan semangka sambil minum susu, kamu bisa sakit perut dan muntah.” Sebagai bocah, saya tentu saja mempercayainya. Sampai suatu hari, ketika iseng mencobanya di usia remaja, saya sadar bahwa perut saya baik-baik saja. Tidak ada muntah, tidak ada sakit. Saya malah berpikir bahwa orang dewasa mungkin menciptakan larangan ini supaya anak-anak tidak menghabiskan susu dan semangka sekaligus.
Ada pula kebohongan yang terkesan mistis, seperti larangan bermain di luar rumah saat magrib. “Kalau main waktu magrib, nanti diculik wewe gombel.” Kebohongan ini cukup berhasil membikin saya takut keluar rumah ketika matahari mulai terbenam. Baru setelah dewasa, saya mengerti bahwa magrib adalah waktu yang penting dalam tradisi keagamaan dan seharusnya dihabiskan dengan beribadah, bukan bermain.
Salah satu kebohongan yang paling saya ingat adalah tentang air kolam yang konon bisa membuat kulit bersisik. Sewaktu kecil, saya sering dilarang bermain di kolam kecil di dekat rumah. Kata ayah saya, airnya berbahaya dan bisa membuat kulit saya menjadi seperti sisik ikan. Kebohongan ini cukup efektif membuat saya takut mendekati kolam itu. Ketika saya besar, saya baru tahu bahwa itu adalah upaya orang tua saya untuk menghindarkan saya dari risiko tenggelam atau terkena penyakit dari air kotor.
Namun, kebohongan yang paling mencengangkan saya mungkin adalah yang berkaitan dengan pendidikan. “Kalau nggak rajin belajar, nanti jadi tukang sapu jalan.” Sebagai anak kecil, imajinasi saya langsung tergambar: Saya memakai seragam rombeng sambil mendorong gerobak sampah. Ketakutan itu membuat saya belajar keras. Namun, sekarang, saya sadar bahwa pekerjaan apa pun itu mulia, termasuk menyapu jalan.
Menariknya, kebohongan-kebohongan ini tidak hanya terjadi di rumah, tetapi juga di lingkungan sekolah. Pernahkah Anda diberi tahu bahwa jika menelan biji buah, maka pohon akan tumbuh di perut Anda? Guru saya dulu mengatakan itu kepada kami. Saya langsung membayangkan ada pohon besar yang tumbuh dari mulut saya. Hal ini membuat saya sangat hati-hati setiap kali makan buah. Sekarang, saya tahu bahwa biji buah yang tertelan hanya akan dicerna seperti makanan lainnya, tidak lebih.
Semua kebohongan itu, saat saya ingat kembali, tidak membuat saya marah atau kecewa. Justru sebaliknya, saya merasa lucu. Kebohongan-kebohongan kecil itu bisa jadi akal-akalan orang dewasa untuk melindungi kita dari bahaya atau membuat kita mematuhi aturan tanpa harus menjelaskan dengan detail yang rumit.
Alhasil, kenangan masa kecil yang penuh kebohongan itu menjadi salah satu aspek yang membuat hidup ini kaya. Mereka menjadi bahan cerita, menjadi pengingat bahwa dunia tidak selalu hitam dan putih. Dan yang terpenting, mereka membuat kita tersenyum di tengah kesibukan hari ini. Jadi, jika suatu hari kamu teringat kebohongan orang dewasa di masa kecil, jangan marah atau kecewa. Tertawalah, karena di balik itu semua, ada kasih sayang yang diam-diam mereka titipkan.



