Masihkah Relevan Mengirim Cerpen ke Koran?

Thumbnail Mengirim Cerpen ke Koran

Di tengah era digital yang kian mendominasi, pertanyaan tentang relevansi mengirim cerpen ke media massa cetak menjadi perdebatan yang tak terelakkan. Platform daring kini menawarkan banyak kemudahan, dari distribusi karya yang instan hingga aksesibilitas yang tak terbatas oleh waktu dan lokasi.

Namun, apakah hal ini berarti bahwa media massa cetak—yang pernah menjadi kiblat bagi para penulis—kehilangan relevansinya? Bagi penulis yang telah lama berkecimpung dalam dunia sastra, termasuk saya yang telah mengirim cerpen ke media sejak 2017, pengiriman karya ke media massa cetak masih menawarkan pengalaman yang tak tergantikan, meskipun dengan tantangan yang signifikan.

Romantisme Media Cetak

Menulis untuk media cetak bukan sekadar soal mempublikasikan karya, tetapi merupakan bagian dari tradisi panjang yang dijalani oleh banyak penulis besar Indonesia. Kita tidak bisa melupakan nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, hingga Seno Gumira Ajidarma yang pernah mengisi halaman koran dengan karya-karya fenomenalnya.

Mereka tidak hanya menulis sebagai upaya untuk berkarya, tetapi juga menciptakan wacana intelektual yang penting dalam peradaban sastra Indonesia. Data mencatat, Chairil Anwar pernah menerbitkan sajak-sajak legendarisnya di Siasat dan Harian Rakjat. Sementara itu, Seno Gumira Ajidarma, yang sering memuat karyanya di Kompas, juga dikenal sebagai salah satu penulis yang mengangkat tema humanisme dan politik lewat cerpen-cerpennya.

Pengalaman saya sendiri tidak jauh berbeda dalam menapaki jalur ini. Pada tahun 2017, saya mulai aktif mengirim cerpen ke berbagai media cetak besar. Salah satu cerpen saya, Lelaki yang Menjadi Api, berhasil diterbitkan di Media Indonesia. Begitu pula dengan cerpen Dongkrek yang berhasil menembus Suara Merdeka. Pengalaman tersebut memberikan kepuasan tersendiri, yang mungkin tidak akan saya dapatkan dari platform digital yang bersifat lebih terbuka.

Namun, di balik kebanggaan tersebut, ada romantisme yang lebih mendalam: proses penantian dan kesabaran. Mengirim cerpen ke media cetak ibarat melakoni ritual panjang. Setelah naskah dikirim, tak ada jaminan kapan atau apakah karya itu akan dimuat. Kadang, saya harus mencari tahu pemuatan karya saya melalui cara yang tidak praktis, seperti menelusuri koran yang saya beli sendiri atau bertanya kepada teman sesama penulis yang kebetulan melihat karya saya.

Kelompok diskusi di Facebook seperti Sastra Minggu atau komunitas sastra lain sering menjadi tempat saya mencari informasi. Tidak ada yang cepat dalam proses ini—justru kesabaran dan harapan menjadi bagian dari pengalaman yang tak ternilai.

Media Cetak vs. Platform Digital

Mengirim cerpen ke media cetak bukanlah langkah instan untuk mendapatkan pembaca atau pengakuan. Banyaknya naskah yang masuk ke redaksi media massa besar seperti Kompas atau Jawa Pos membuat kemungkinan karya kita terbit jauh lebih kecil dibandingkan dengan platform digital yang menawarkan keterbukaan.

Data menunjukkan bahwa di Kompas, hanya sekitar 1% dari ribuan naskah yang masuk setiap bulannya yang akan dipublikasikan. Ini menandakan betapa ketatnya persaingan di media cetak besar.

Dalam konteks ini, kita bisa membandingkan dengan platform digital seperti Wattpad atau Medium, di mana penulis memiliki kontrol penuh atas kapan dan bagaimana karyanya diunggah. Menurut survei dari Statista (2023), platform seperti Wattpad memiliki lebih dari 90 juta pengguna aktif, di mana 70% di antaranya adalah penulis pemula yang mengunggah karya mereka sendiri.

Namun, meski platform ini memungkinkan penulis mendapatkan pembaca dalam jumlah besar, kualitas yang dihasilkan kerap dipertanyakan karena tidak melalui proses seleksi yang ketat.

Problematika Penulis

Seiring berjalannya waktu, tantangan dalam mengirim cerpen ke media massa semakin terasa. Selain ketatnya persaingan, ketidakpastian adalah problematika terbesar. Tidak jarang saya harus menunggu berbulan-bulan tanpa kabar apakah naskah saya diterima atau ditolak.

Beberapa kali saya menemukan cerpen saya dimuat tanpa pemberitahuan dari redaksi, sebuah fenomena yang umum terjadi. Sebagai contoh, cerpen Lelaki yang Menjadi Api yang terbit di Media Indonesia pertama kali saya ketahui dari seorang teman yang kebetulan membacanya di koran.

Tidak hanya masalah ketidakpastian, tetapi juga honorarium yang kerap terlambat menjadi keluhan umum di kalangan penulis. Berdasarkan pengalaman pribadi, honor untuk cerpen bisa datang satu hingga dua bulan setelah karya terbit.

Bagi penulis yang menggantungkan penghasilan pada honor tersebut, situasi ini tentu sangat memberatkan. Di Indonesia, masalah keterlambatan honor ini tidak hanya terjadi di media kecil, bahkan media sebesar Kompas pun tak luput dari masalah serupa, meski frekuensinya lebih jarang.

Pengakuan dan Validasi

Mencari pengakuan sebagai penulis bukan hanya soal popularitas, melainkan tentang validasi atas karya kita. Axel Honneth, seorang sosiolog Jerman, dalam teorinya tentang social recognition menjelaskan bahwa manusia memerlukan pengakuan dari lingkungannya untuk membangun identitas diri. Dalam konteks penulis, pengakuan tersebut datang dari pembaca dan media yang mempublikasikan karya mereka.

Mengirim cerpen ke media cetak memberi kita pengakuan yang lebih prestisius dibandingkan dengan platform digital. Saat sebuah cerpen berhasil menembus Kompas atau Jawa Pos, itu adalah pengakuan bahwa karya kita telah melewati kurasi ketat dari para redaktur berpengalaman.

Validasi semacam ini tidak bisa didapatkan dengan cara instan. Tradisi sabar dan menanti giliran publikasi ini telah menjadi bagian dari karakteristik penulis lawas, di mana setiap proses menjadi ujian terhadap keseriusan berkarya.

Pragmatisme dalam Sastra

Bukan berarti kita harus menolak kehadiran platform digital. Justru pragmatisme harus kita tanamkan dalam perjalanan berkarya. Di satu sisi, media cetak memberi pengakuan prestisius, namun di sisi lain, platform digital menawarkan akses yang lebih luas dan peluang untuk terhubung dengan lebih banyak pembaca. Data dari We Are Social (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 62% populasi Indonesia adalah pengguna internet aktif, yang artinya, potensi pembaca di platform digital lebih besar dibandingkan media cetak yang cenderung terbatas pada wilayah tertentu.

Namun, saya berpendapat bahwa kedua jalur ini bisa saling melengkapi. Menulis untuk media cetak memberi kita pengakuan formal, sementara platform digital membuka peluang bagi karya kita untuk lebih dikenal. Ada penulis yang awalnya menerbitkan cerpen di blog atau Wattpad, dan kemudian menarik perhatian redaksi koran, atau bahkan penerbit. Namun, menulis untuk media cetak menuntut kita untuk lebih sabar dan telaten, sesuatu yang kadang hilang dalam budaya serba cepat di era digital.

Mengapa Media Cetak Masih Penting?

Relevansi media cetak tak hanya soal pengakuan, tetapi juga soal kualitas karya. Media cetak masih menjadi tempat di mana kualitas tulisan benar-benar diuji, karena seleksi yang ketat dan proses kurasi yang panjang. Tidak sedikit penulis besar yang memulai karir mereka dengan menulis di koran. Selain itu, media cetak juga memberikan tantangan tersendiri bagi penulis untuk menyusun naskah yang mampu bertahan di tengah persaingan ketat.

Bagi saya, menulis untuk media cetak adalah upaya menjaga standar tertinggi dalam berkarya. Ketika sebuah cerpen terbit di koran, saya merasa karya tersebut telah melewati ujian kualitas yang keras. Ini berbeda dengan platform digital di mana karya lebih mudah diunggah, tetapi tidak melalui proses seleksi yang ketat. Kualitas tulisan pada akhirnya menjadi taruhan di media cetak, sementara di platform digital, kuantitas dan popularitas sering kali menjadi tolok ukur.

Tradisi Lama

Meski dunia berubah dengan cepat, mengirim cerpen ke media massa cetak masih relevan. Ini bukan hanya soal publikasi, tetapi soal tradisi, validasi, dan penghargaan terhadap proses menulis itu sendiri. Di tengah serbuan platform digital yang menawarkan instan, media cetak tetap menjadi kiblat bagi penulis yang menghargai kualitas dan kesabaran.

Relevansi media cetak mungkin telah bergeser, tetapi tidak akan pernah benar-benar hilang. Selama masih ada penulis yang ingin menguji kualitas karyanya di medan yang sesungguhnya, selama masih ada pembaca yang setia menanti cerpen-cerpen berkualitas di halaman koran, tradisi ini akan terus hidup. Dan bagi saya, mengirim cerpen ke media cetak bukan hanya tentang harapan agar karya diterbitkan, tetapi tentang perjalanan, pembelajaran, dan apresiasi terhadap nilai sebuah proses.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top