Kalau ada satu hal yang sering bikin orang was-was saat harus menulis, itu adalah esai. Entah kenapa, kata “esai” ini seolah-olah punya aura akademis yang bikin kening berkerut. Begitu dibilang harus menulis esai, mendadak sebagian orang langsung panik. Mereka ngebayangin tugas kuliah yang tebalnya dua rim kertas. Padahal, kalau dipikir-pikir, esai itu nggak seseram itu, kok.
Esai itu ibarat ngobrol sama teman, tapi lebih tertata. Kalau ngobrol biasanya ngalor-ngidul, esai ini lebih punya arah. Sederhananya, esai adalah tulisan yang berisi gagasan, opini, atau refleksi seseorang tentang suatu topik. Bisa serius, bisa santai, tergantung siapa yang nulis dan bagaimana cara menyampaikannya.
Coba tengok Agus Mulyadi, misalnya. Esai-esainya di Mojok.co seringkali lebih mirip curhatan yang dibungkus dengan jenaka, tapi tetap ada gagasan yang tersampaikan. Sementara itu, kalau lihat esai Haruki Murakami, suasananya lebih melankolis dan mengalir pelan, seakan-akan mengajak pembaca menyelam dalam pikirannya yang dalam.
Esai itu bisa menjadi sesuatu yang sangat personal, hampir seperti halaman dari sebuah jurnal harian yang kita bagikan ke orang lain. Saya ingat pernah menulis esai tentang kucing saya yang hilang selama sehari. Awalnya, saya pikir tulisan itu hanya akan menjadi semacam curhatan pribadi, tapi ternyata banyak orang yang merespons dengan berbagi kisah serupa. Dari situ saya sadar bahwa esai, sepersonal apa pun, bisa menemukan pembacanya sendiri.
Banyak penulis pemula yang takut memulai esai karena berbagai alasan. Salah satunya adalah rasa takut kalau tulisannya jelek atau nggak menarik. Saya sendiri dulu sering merasa minder, takut kalau ide yang saya tulis terdengar klise atau kurang berbobot. Namun, semakin banyak menulis, saya sadar bahwa hal terpenting dalam esai bukanlah seberapa canggih bahasanya, melainkan seberapa jujur dan tulus gagasan yang disampaikan.
Ketakutan lain adalah kehabisan ide. Padahal, kalau diperhatikan baik-baik, inspirasi bisa datang dari mana saja. Sesuatu yang terlihat remeh dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi bahan esai yang menarik. Saya pernah membaca esai yang membahas filosofi dari kebiasaan mencuci piring, dan itu justru menarik karena dikemas dengan cara yang reflektif.
Beberapa orang juga takut kalau esainya terlalu subjektif atau terlalu banyak curhat. Padahal, justru dalam subjektivitas itulah esai menjadi unik. George Orwell mengatakan bahwa menulis esai adalah upaya menemukan kebenaran dalam berbagai aspek kehidupan. Esai yang baik bukanlah yang berusaha netral dan objektif, tapi yang berani menyampaikan opini dengan argumentasi yang kuat.
Baca juga: Belajar Menulis Esai dengan Belajar Berkomentar
Menulis esai yang enak dibaca bukan perkara mudah, tapi juga bukan sesuatu yang terlalu sulit. Bayangkan saja kita sedang berbicara dengan seseorang yang tertarik pada apa yang kita ceritakan. Saya pribadi selalu memulai esai dengan duduk santai, menyeduh kopi, dan membiarkan pikiran mengalir begitu saja. Biasanya, saya akan menulis tanpa terlalu banyak berpikir di awal, membiarkan jari-jari mengetik apa yang ada di kepala. Baru setelah beberapa paragraf, saya mulai mengarahkannya ke satu gagasan utama.
Banyak orang berpikir bahwa esai harus dimulai dengan kalimat pembuka yang berbobot. Tapi sebenarnya, esai yang menarik bisa dimulai dengan sesuatu yang sederhana. Saya pernah menulis esai yang dibuka dengan pertanyaan, “Pernah nggak sih merasa kehilangan sesuatu yang sepele, tapi rasanya seperti kehilangan dunia?” Kalimat itu saya pakai untuk bercerita tentang bolpoin kesayangan yang hilang, yang ternyata menjadi simbol dari berbagai kehilangan dalam hidup. Dari sana, esai berkembang menjadi refleksi yang lebih dalam.
Beberapa tokoh ternama juga memiliki pandangan menarik tentang esai. George Orwell, misalnya, dalam esainya yang terkenal “Why I Write”, menjelaskan bahwa menulis esai adalah upaya untuk menemukan kebenaran dalam berbagai aspek kehidupan. Ia percaya bahwa esai yang baik harus jujur, reflektif, dan berani mengungkapkan opini yang mungkin tidak populer.
Sementara itu, Michel de Montaigne, bapak esai modern dari Prancis, melihat esai sebagai bentuk eksplorasi pikiran yang bebas dan tidak terikat aturan kaku. Montaigne menulis esai-esai yang berisi pemikirannya sendiri tentang kehidupan, moralitas, dan pengalaman pribadi dengan gaya yang mengalir dan renyah.
Esai juga tidak harus selalu serius. Banyak penulis yang berhasil menyampaikan pemikiran dengan cara yang ringan dan menghibur. Kadang, saya sengaja memasukkan humor atau ironi dalam tulisan agar pembaca merasa lebih dekat dengan apa yang saya sampaikan.
Bagi saya, menulis esai adalah tentang menjaga keseimbangan antara kedalaman gagasan dan kehangatan dalam penyampaian. Seperti yang dikatakan Joan Didion, seorang esais Amerika terkenal, esai bukan hanya tentang menulis ide belaka. Esai juga tentang memahami diri sendiri dalam prosesnya. Menurutnya, menulis esai adalah cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita pikirkan tentang sesuatu.
Baca juga: Filosofi Teras dan Cara Kita Mengendalikan Diri
Esai yang baik biasanya juga punya akhir yang berkesan. Tidak harus berupa kesimpulan kaku seperti di makalah akademis, tapi lebih kepada sesuatu yang membuat pembaca merasa ada sesuatu yang terselesaikan. Saya suka menutup esai dengan refleksi atau pertanyaan yang membuat pembaca terus berpikir. Pernah suatu kali, saya mengakhiri esai dengan kalimat, “Barangkali, kehilangan adalah cara semesta mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki.”
Alhasil, esai adalah tentang bercerita dengan cara yang lebih terarah. Kita bisa menulis tentang apa saja, mulai dari pengalaman pribadi, fenomena sosial, hingga hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Yang terpenting, kita menulis dengan kejujuran dan ketulusan, karena itulah yang membuat esai bisa hidup dan bermakna bagi pembaca.
Jadi, kalau lain kali ada yang bilang, “Coba deh bikin esai!”, jangan buru-buru panik. Ambil kopi, duduk santai, dan mulai menulis seperti sedang bercerita. Siapa tahu, dari tulisan sederhana itu, ada ide besar yang lahir dan menginspirasi banyak orang.



