Menulis untuk Apa?

Menulis untuk Apa

Pernah suatu kali, di sebuah warung kopi yang pencahayaan remangnya cocok untuk merenungi hidup, seorang teman bertanya kepada saya, “Kamu menulis untuk apa?”

Pertanyaan itu, walaupun sederhana, langsung seperti petir di siang bolong. Sebagai seseorang yang mengaku-ngaku penulis, pertanyaan seperti itu sebenarnya lebih sulit dijawab ketimbang soal ujian logaritma di SMA. Namun, saya tidak mau terlihat bodoh di depan teman saya, jadi saya menjawab dengan mantap, “Ya untuk berbagi cerita, Mas.” Jawaban yang sebenarnya klise, tetapi setidaknya cukup untuk menghindari tatapan meremehkan.

Sepulang dari warung kopi, saya memikirkan lagi pertanyaan itu. Betul juga, sebenarnya menulis itu untuk apa? Apakah hanya untuk berbagi cerita? Atau ada alasan lain yang lebih dalam, lebih filosofis, lebih menggetarkan jiwa?

Setelah merenung selama tiga cangkir kopi dan satu bungkus rokok, saya sampai pada kesimpulan bahwa menulis bukan semata berbagi cerita. Menulis adalah terapi jiwa. Ia adalah tempat saya melarikan diri dari hiruk-pikuk dunia yang kadang terlalu ribut untuk ditangkap dengan logika. Dengan menulis, saya bisa memanipulasi kenyataan. Saya bisa membuat hidup yang berantakan terlihat puitis. Saya bisa mengubah kesedihan menjadi humor, dan kekosongan menjadi narasi yang seolah-olah bermakna.

Tapi, itu baru separuhnya. Menulis juga adalah cara saya untuk tetap merasa hidup. Ada semacam perasaan senang ketika satu tulisan saya lahir. Rasanya seperti menyematkan eksistensi saya ke dalam lembaran sejarah, meskipun hanya sejarah kecil yang mungkin hanya dibaca oleh lima orang, termasuk istri saya. Menulis menjadi semacam tanda bahwa saya ada, bahwa saya pernah berpikir, merasa, dan mencoba memahami dunia ini.

Namun, jujur saja, menulis juga termasuk soal ego. Ada kepuasan tersendiri ketika tulisan saya dihujani pujian, atau ketika seseorang mengatakan, “Tulisanmu keren, Mas.” Ego itu, walaupun kecil dan remeh, tetap saja membuat saya ingin terus menulis. Karena siapa yang tidak suka dihargai? Bahkan, kritik sekalipun kadang terasa seperti validasi; setidaknya ada yang cukup peduli untuk membaca dan memberikan tanggapan.

Di sisi lain, menulis juga menjadi ajang pembuktian. Sebagai seorang yang introvert dan lebih banyak diam saat berhadapan di dunia nyata, menulis merupakan cara saya untuk berteriak tanpa mengganggu ketenangan orang lain. Melalui tulisan, saya bisa mengatakan apa yang sebenarnya saya rasakan tanpa takut disela atau dihakimi. Menulis adalah panggung saya, panggung di mana saya tidak perlu merasa canggung atau gugup.

Ada juga dimensi lain dari menulis yang baru saya sadari belakangan: Menulis adalah bentuk dialog dengan diri sendiri. Setiap kata yang saya tulis menjadi refleksi dari apa yang ada di kepala dan hati saya. Ketika saya bingung, menulis membantu saya menemukan arah. Ketika saya sedih, menulis menjadi penghibur yang setia. Dan ketika saya bahagia, menulis menjadi cara saya untuk merayakan kebahagiaan itu.

Namun di atas semua itu, menulis adalah soal keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri, keberanian untuk dihakimi oleh orang lain, dan keberanian untuk tetap menulis meskipun tahu bahwa mungkin tulisan itu akan diabaikan. Karena pada akhirnya, menulis adalah soal berdamai dengan diri sendiri.

Saya teringat sebuah cerita tentang seorang penulis yang berkata bahwa ia menulis untuk melawan lupa. Lupa pada detail-detail kecil dalam hidup, lupa pada hal-hal yang sebenarnya penting, lupa pada diri sendiri. Dan saya rasa, itu juga salah satu alasan saya menulis. Saya tidak ingin hidup saya berlalu begitu saja tanpa jejak. Saya ingin mencatat, merekam, dan mengabadikan apa yang saya alami, meskipun mungkin hanya akan dibaca oleh saya sendiri di masa depan.

Jadi, kalau sekarang saya ditanya lagi, “Menulis untuk apa?”, saya mungkin akan menjawab dengan sedikit lebih jujur: “Untuk tetap waras.” Sebab, tanpa menulis, kepala saya yang penuh dengan pikiran acak ini mungkin sudah meledak sejak lama.

Dan bukankah tetap waras adalah alasan yang paling masuk akal untuk menulis? Karena di dunia yang kadang terasa terlalu bising, menulis adalah satu-satunya cara saya untuk menemukan ketenangan, walaupun hanya sesaat.

Lagipula, menulis itu seperti membuat peta. Kita mungkin tidak tahu akan pergi ke mana, tetapi setiap kata yang kita torehkan adalah tanda bahwa kita sedang berjalan. Dan selama kita terus berjalan, hidup ini, bagaimanapun juga, terasa lebih berarti.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top