Rencana Liburan yang Masih jadi Wacana

Rencana Liburan

Kalau dihitung-hitung, usia pernikahan saya dan istri sudah lebih dari setahun. Desember 2024 adalah bulan yang penuh suka cita, di mana ijab kabul terucap dan janji sehidup semati diikrarkan. Namun, ada satu hal yang belum juga terlaksana: Bulan madu. Bukan karena tidak ingin, tapi rencana yang sudah kami buat berulang kali hanya menjadi wacana yang lenyap ditelan rutinitas.

Awalnya, kami berniat ke Jogja. Kota yang menyimpan sejuta cerita romantis dan selalu punya daya tarik bagi siapa saja yang mengunjunginya. Malioboro, Tugu, dan sudut-sudut angkringan seakan memanggil kami untuk datang. Namun, niat itu kandas. Alasannya? Klise. Kesibukan dan anggaran yang selalu saja terpakai untuk hal lain.

Kemudian, wacana berikutnya adalah Malang. Kota yang dikenal dengan hawa sejuknya ini sepertinya cocok untuk menikmati waktu berdua. Bahkan, saya sudah sempat membayangkan mengunjungi Batu Night Spectacular atau sekadar menyusuri jalanan kota yang asri. Tapi lagi-lagi, rencana itu tinggal rencana. Kali ini, kami terhalang waktu.

“Kalau nggak jauh-jauh, gimana kalau Pacitan?” istri saya pernah mengusulkan. Pacitan, dengan garis pantai yang panjang dan ombak yang menggoda, memang terdengar menarik. Apalagi, ada banyak tempat di sana yang cukup dekat dari Madiun. Namun, entah kenapa, rencana ke Pacitan pun gagal. Padahal adik sepupu saya dengan suaminya sudah membuktikan betapa menyenangkan menyusuri Jalur Lintas Selatan (JLS), hingga akhirnya menikmati ombak di Pantai Prigi.

Lucunya, setelah menikah, saya justru merasa lebih nyaman di rumah. Ini sebuah ironi, karena saat masih bujang, saya cukup sering pergi jauh untuk sekadar ngopi bersama teman-teman. Ponorogo, Madiun, hingga daerah-daerah yang sebenarnya cukup melelahkan untuk dijangkau, tidak pernah mendapatkan halangan.

Namun sekarang, godaan kasur dan suasana rumah seakan sulit untuk dilawan. Istri saya sering merajuk, terutama saat melihat unggahan orang lain yang tengah menikmati liburan. “Masa iya, kita kalah sama mereka?” ujarnya dengan nada setengah bercanda.

Sampai akhirnya, akhir Januari 2025 ini memberikan sedikit harapan. Libur panjang dari tanggal 25 sampai 29 memberikan kami ruang untuk kembali bermimpi. Mulanya, kami merencanakan liburan ke Jogja. Akan tetapi, setelah diperhitungkan, destinasi berubah jadi ke Telaga Sarangan. Sarangan tidak terlalu jauh dari rumah, tapi cukup untuk memberikan suasana baru. Dua hari di Sarangan sepertinya akan menjadi momen yang berharga bagi kami.

Sarangan memang bukan tempat yang asing. Danau di lereng Gunung Lawu ini sudah lama dikenal sebagai destinasi favorit banyak orang. Saya masih ingat terakhir kali ke sana, udaranya begitu dingin hingga secangkir teh kopi di warung pinggir danau terasa seperti sebuah kemewahan. Istri saya sudah mulai membayangkan naik speedboat mengelilingi danau atau sekadar duduk santai menikmati jagung bakar. “Kalau di sana, nggak usah mikir yang ribet-ribet ya, Mas. Kita santai saja,” girangnya.

Meskipun rencana ini terlihat sederhana, kami mulai serius mempersiapkan. Saya memutuskan untuk mencari penginapan yang strategis, yaitu yang memiliki balkon menghadap langsung ke danau. Dari pencarian di internet, ada satu vila kecil yang kelihatannya sempurna: Artomoro. Vila ini menawarkan suasana tradisional dengan ornamen kayu, lengkap dengan fasilitas kamar, seperti TV dan kamar mandi dalam. Harganya pun relatif terjangkau.

Selain penginapan, kami juga berdiskusi soal makanan khas yang ingin dicoba di sana. Sarangan terkenal dengan sate kelinci, yang konon memiliki cita rasa gurih dan tekstur daging yang lembut. Istri saya, meskipun awalnya ragu, akhirnya setuju untuk mencobanya. “Kan, pengalaman baru,” katanya sambil tersenyum. Selain sate kelinci, ada juga tempe goreng renyah yang katanya selalu menggoda lidah, apalagi jika disantap bersama teh hangat di pagi hari.

Kami juga mulai merancang daftar aktivitas sederhana selama di sana. Selain naik speedboat mengelilingi danau, kami ingin mencoba berjalan-jalan di sekitar area danau pada pagi hari. Konon, saat embun pagi masih menggantung, pemandangan di Sarangan menjadi sangat menakjubkan. Kabut tipis yang melayang di atas air danau menciptakan suasana magis yang sulit ditemukan di tempat lain.

Selain itu, ada ide untuk menjelajahi kawasan sekitar Sarangan. Salah satunya adalah Air Terjun Tirtosari yang cukup populer di kalangan wisatawan. Air terjun ini memiliki aliran yang jernih dan sejuk, cocok untuk menyegarkan pikiran. Perjalanan menuju ke sana pun kabarnya menawarkan pemandangan yang memanjakan mata, dengan hamparan perkebunan sayur dan hutan pinus di sepanjang jalan.

Saya juga teringat bahwa di Sarangan, banyak penjaja oleh-oleh khas yang menarik. Salah satunya adalah keripik jamur dan madu hutan. Kami berencana untuk membeli beberapa sebagai buah tangan untuk keluarga di rumah. “Kan, sekalian berbagi rezeki,” ujar istri saya dengan antusias.

Namun, di balik semua rencana ini, ada satu kekhawatiran kecil. Bagaimana jika, seperti rencana-rencana sebelumnya, liburan ini juga kandas? Tapi kali ini, saya ingin berusaha lebih keras untuk mewujudkannya. Saya menyadari bahwa liburan ini bukan hanya soal tempat yang dikunjungi, tapi juga tentang memberikan perhatian dan waktu berkualitas untuk istri.

Malam sebelum keberangkatan, saya dan istri mulai membereskan barang bawaan. Dari jaket tebal, kaus yang cukup, hingga perlengkapan ibadah. Kami juga sepakat untuk membawa laptop, jaga-jaga kalau ada ide datang. Saya sudah membayangkan kami duduk di balkon penginapan, menikmati pemandangan danau sambil bercengkerama dengan istri, diiringi suara gemericik air dan udara dingin yang menyegarkan.

Lebih lanjut, istri saya lekas booking salah satu kamar di Villa Artomoro. “Biar rencana liburan ini nggak berakhir jadi wacana saja,” cibirnya, setengah tersenyum. Saya pun, sebenarnya juga berharap demikian. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga istri saya. Sudah lama ia menantikan momen semacam ini.

Semoga saja, mitos rencana liburan yang hanya sebatas rencana tidak terulang pada saya. Karena saya sadar, ada hal-hal yang tidak boleh terus-menerus ditunda. Sebuah perjalanan sederhana bersama pasangan ialah upaya kami untuk saling mendekatkan diri.

Setelah semua ini, saya sadar bahwa kebahagiaan pernikahan tidak selalu hadir dalam bentuk hal-hal besar. Kadang, kebahagiaan itu justru hadir dalam hal kecil yang sederhana: Sebuah perjalanan singkat, sepiring sate kelinci, dan tawa ringan yang muncul karena bercanda tanpa beban. Itu semua adalah bentuk cinta yang paling nyata, yang sering kali terlewatkan dalam rutinitas sehari-hari.

Sarangan, dengan kesederhanaannya, menjadi cermin bagi saya. Tempat itu mengingatkan saya bahwa kadang kita terlalu sibuk mengejar kesempurnaan, hingga lupa bahwa kebahagiaan sejati ada di hal-hal yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Dan dalam perjalanan pulang nanti, saya ingin menyimpan kenangan ini di hati, bukan hanya sebagai cerita perjalanan, tapi juga sebagai pelajaran hidup.

Barangkali, kelak kami akan pergi lebih jauh. Mungkin, kami akan ke Jogja, Malang, atau bahkan luar negeri. Tapi saya yakin, apa pun tujuan kami berikutnya, kehangatan perjalanan ini akan tetap menjadi patokan. Sebab, meski baru Sarangan, kami telah menemukan makna dari sebuah perjalanan: Bersama-sama, menikmati hidup dengan penuh rasa syukur.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top