Di berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, geliat sastra seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap minggunya, ada saja acara literasi yang digelar: pembacaan puisi, diskusi buku, pameran literasi, atau sekadar pertemuan penulis dengan pembacanya.
Kota-kota tersebut menjadi saksi tumbuhnya berbagai generasi sastrawan besar Indonesia seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, hingga Sapardi Djoko Damono, yang karyanya mengisi lembaran-lembaran buku dan media. Namun, bagaimana dengan kota kecil seperti Madiun? Kenapa jarang kita mendengar Madiun disebut sebagai kota yang aktif dalam dunia sastra? Apakah potensi itu ada, atau kita hanya belum menemukan cara yang tepat untuk menumbuhkannya?
Madiun adalah kota kecil yang kaya sejarah, tetapi dalam dunia sastra, Madiun mungkin tidak begitu terdengar. Tidak ada festival sastra besar atau komunitas yang bergaung di kancah nasional. Namun, ini bukan berarti sastra tidak memiliki tempat di sini. Sastra seharusnya bisa tumbuh di mana saja, termasuk di kota kecil seperti Madiun. Potensi selalu ada, hanya saja belum ada ekosistem yang mendukungnya. Dan inilah yang harus kita ubah. Sastra tidak akan hidup hanya dari satu penulis saja. Ia membutuhkan komunitas yang kuat, tempat di mana karya-karya bisa dikritisi, dikembangkan, dan diapresiasi.
Sastra tidak pernah tumbuh dalam kekosongan. Di balik karya-karya besar selalu ada komunitas yang mendukung. Komunitas inilah yang menjadi tanah subur di mana benih-benih sastra bisa tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Di kota-kota besar, komunitas sastra seringkali berperan sebagai katalisator yang mempertemukan penulis, pembaca, dan kritikus dalam satu ruang yang sama. Mereka bertukar ide, mengkritisi karya, dan saling mendorong untuk terus berkembang. Dalam suasana yang seperti ini, sastra bisa tumbuh dengan cepat.
Sayangnya, di Madiun, hal tersebut belum terlihat. Gerakan-gerakan sastra masih sangat sporadis dan terpecah-pecah. Ada upaya-upaya kecil yang dilakukan, tetapi tidak terkoordinasi dengan baik. Acara-acara sastra seringkali hanya terjadi sesekali dan tidak berkelanjutan. Hal ini membuat penggiat sastra di Madiun sering merasa terisolasi. Padahal, untuk menumbuhkan sastra, kita tidak bisa berjalan sendiri. Menulis bisa dilakukan sendiri, tapi menjadi penulis yang berkembang, kita tidak bisa sendirian. Komunitas adalah jawabannya.

Membangun Ekosistem Sastra
Sebagai penulis yang lahir dan besar di Madiun, saya melihat sendiri bahwa sebenarnya banyak anak muda yang memiliki kecintaan terhadap sastra. Mereka membaca, menulis, dan mencoba bereksperimen dengan karya-karya. Namun, mereka seringkali merasa terisolasi karena kurangnya tempat untuk berkumpul dan berbagi. Tidak adanya ruang diskusi membuat karya-karya tersebut seringkali berakhir tanpa ada perkembangan lebih lanjut.
Langkah awal untuk menumbuhkan ekosistem sastra di Madiun adalah dengan membangun komunitas yang kuat. Komunitas ini bisa dimulai dari lingkup kecil, misalnya kelompok diskusi sastra di kampus, sekolah, atau ruang-ruang publik. Dari komunitas kecil ini, kita bisa mulai membangun ekosistem yang lebih besar. Universitas PGRI Madiun (Unipma), misalnya, bisa menjadi pusat dari gerakan ini.
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran literasi di kalangan mahasiswa. Saya sempat berdiskusi dengan Pak Panji, salah seorang dosen di Unipma, dan kami sepakat bahwa universitas bisa menjadi wadah yang sangat potensial untuk melahirkan generasi sastrawan baru atau kritikus baru. Dengan diadakannya acara rutin seperti diskusi buku, kelas menulis, atau festival sastra, kita bisa memupuk minat mahasiswa terhadap sastra dan menghidupkan kembali gairah literasi di Madiun.
Tidak hanya itu, keterlibatan dosen dan penulis lokal juga sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan generasi muda. Mereka yang telah lebih dulu berkecimpung di dunia sastra memiliki pengalaman dan wawasan yang bisa dibagikan kepada generasi selanjutnya. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan penulis lokal dapat menjadi pondasi yang kuat bagi tumbuhnya komunitas sastra di Madiun.
Peran Media Massa dan Platform Daring
Selain perguruan tinggi, media juga memiliki peran penting dalam menyebarkan sastra ke khalayak yang lebih luas. Di era digital seperti sekarang, karya sastra tidak lagi terbatas pada media cetak. Blog, website, dan media sosial bisa menjadi platform yang sangat efektif untuk mempublikasikan karya sastra. Namun, di Madiun, media lokal belum sepenuhnya memberikan ruang bagi karya-karya sastra. Padahal, jika koran-koran lokal memberikan kolom khusus untuk puisi, cerpen, atau esai dari penulis-penulis lokal, hal ini bisa menjadi dorongan besar bagi mereka yang ingin karyanya diapresiasi.
Saya pernah berbicara dengan Tulus Setiyadi, seorang sastrawan Jawa dari Banjarsari, Nglames, yang juga menyayangkan minimnya perhatian media lokal terhadap karya sastra. Padahal, kata Tulus, di masa lalu, media cetak lokal pernah sangat berperan dalam memajukan sastra di daerah-daerah. Kini, dengan adanya platform digital, peluang bagi penulis muda untuk mempublikasikan karyanya semakin besar. Kita hanya perlu memanfaatkan peluang tersebut dan mendorong media lokal untuk lebih memperhatikan karya-karya sastra.
Baca juga: Pemberontakan sebagai Jalan Mencari Kebenaran

Peran Anak Muda dalam Membangun Sastra
Anak muda adalah sentar dari keberlangsungan sastra di masa depan. Mereka adalah generasi yang penuh semangat, ide-ide segar, dan inovasi. Jika kita bisa melibatkan anak muda dalam gerakan sastra di Madiun, kita bisa berharap sastra akan terus berkembang. Anak muda memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama dalam komunitas sastra, dan mereka juga memiliki akses yang lebih luas terhadap teknologi yang bisa digunakan untuk mempromosikan sastra.
Mengadakan acara seperti pembacaan puisi, diskusi buku, atau festival sastra mini bisa menjadi langkah awal yang efektif. Dalam komunitas yang inklusif, anak muda bisa saling mendukung, mengkritisi karya, dan mendorong satu sama lain untuk terus berkarya. Selain itu, kerja sama dengan komunitas sastra di kota lain seperti Yogyakarta bisa menjadi cara untuk membuka wawasan dan memperkuat jaringan sastra. Pertukaran penulis, diskusi lintas kota, dan kolaborasi antarkomunitas bisa menjadi langkah penting untuk memperkaya pengalaman dan memperkuat hubungan antarsastrawan.
Tidak banyak yang tahu bahwa di masa lalu, Madiun pernah memiliki Majelis Sastra Madiun, sebuah komunitas yang menjadi tempat berkumpulnya para penggiat sastra. Majelis ini menjadi ruang bagi para penulis untuk berdiskusi, berbagi, dan mengasah kemampuan menulis mereka. Sayangnya, majelis ini kini tidak sesemarak yang dulu.
Baca juga: Review Barang-Barang Joger Bali 2024

Menumbuhkan Kesadaran Kolektif
Sastra bukan hanya sekadar seni berbahasa. Sastra adalah medium untuk menyampaikan keresahan, pemikiran, dan perasaan manusia. Melalui sastra, kita bisa mengeksplorasi ide-ide besar, mengkritisi kehidupan, dan menyuarakan hal-hal yang mungkin tidak bisa diungkapkan dengan cara lain. Sastra mengajarkan kita untuk berpikir kritis dan kreatif, serta membuka wawasan kita tentang dunia di sekitar kita.
Di Madiun, penting untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa sastra adalah bagian penting dari budaya. Pendidikan sastra di sekolah harus lebih diperkuat, dan acara-acara literasi harus lebih sering diadakan. Kita harus menciptakan ruang di mana sastra bisa hidup, dan itu hanya bisa terjadi jika ada dukungan dari berbagai pihak—dari komunitas, perguruan tinggi, media, dan masyarakat umum.
Membangun komunitas sastra di Madiun bukanlah tugas yang mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil. Potensi itu ada, tinggal bagaimana kita mengorganisirnya. Sastra membutuhkan ruang untuk berkembang, dan ruang itu hanya bisa ada jika kita bersama-sama menciptakannya.
Mari kita mulai dengan langkah kecil: membangun komunitas yang solid, melibatkan perguruan tinggi, media, dan anak muda. Kita harus menghidupkan kembali semangat literasi di kota ini. Bukan nanti, tapi saat ini. ***



