Tidak Putus Berkarya, 10 Tahun Menjadi Penulis

Menjadi Penulis

Saya tak terlalu bersemangat kalau bertemu dengan seorang teman yang ingin menulis. Bukan apa-apa, ini bukan soal saya tak ingin berbagi atau mendukung keinginannya. Namun, karena saya tahu, banyak orang yang ingin menulis, tapi jauh lebih sedikit yang benar-benar bertahan menulis.

Kalau ada orang yang datang dengan penuh semangat dan berkata, “Saya ingin jadi penulis!” saya hanya bisa tersenyum. Dalam hati saya membatin, “Coba kita lihat sebulan ke depan.” Bukan meremehkan, tapi saya percaya menulis bukan sekadar letupan karbit. Menulis ialah soal ketahanan. Soal kesetiaan pada kata-kata meski dunia terasa tak memihak kita.

Saya mulai menulis sejak 2015 lalu. Waktu itu, saya hanyalah seorang pembaca setia buku kumpulan cerpen Raditya Dika, Kambing Jantan, Manusia Setengah Salmon, dan lain-lain. Saya kepincut oleh betapa mudahnya ia membuat orang tertawa hanya dengan susunan kata-kata. Saya pun coba meniru. Awalnya, menulis novel pop, kemudian menulis esai dan opini, lalu beralih ke cerpen, hingga akhirnya mencoba puisi.

Selama sepuluh tahun menulis, saya mengalami banyak fase. Ada masa ketika saya merasa percaya diri dan produktif, tetapi ada pula masa di mana saya merasa kering dan mandek. Saya pernah merasa tulisan saya luar biasa–hanya untuk kemudian mendapati bahwa itu biasa saja setelah dibaca ulang beberapa bulan kemudian. Namun, dalam tiap fase itu, satu hal yang selalu saya pertahankan: Saya tetap menulis.

Baca juga: Filosofi Teras dan Cara Kita Mengendalikan Diri

Saya tidak menempuh perjalanan ini sendirian. Saya beruntung memiliki rekan-rekan seperjuangan dalam dunia kepenulisan. Wasis, Fuaddin, dan rekan lainnya. adalah orang-orang yang selalu menemani saya belajar menulis dalam komunitas. Kami bertukar tulisan, saling memberi kritik, dan berdiskusi panjang tentang tulisan yang bagus dan yang tidak.

Di komunitas sastra Langit Malam, saya bersama teman-teman mengadakan sayembara buku kumpulan puisi yang diberi nama “Babu Tetek.” Nama yang terdengar unik dan mungkin sedikit nyeleneh–tetapi justru karena itulah banyak yang tertarik untuk ikut serta. Dari proyek ini, saya menyaksikan bagaimana puisi bisa menjadi medium ekspresi yang begitu kuat, bahkan bagi mereka yang sebelumnya tak pernah menulis puisi.

Di kampus, saya bertemu dengan Pak Lukman Santoso Az, seorang dosen yang kemudian menjadi guru literasi saya. Beliau mengajarkan banyak hal. Salah satunya, bahwa menulis tak lebih dari meresapi pengalaman personal dan menuangkannya dengan jujur. “Menulis adalah cara kita memahami dunia,” katanya suatu ketika. Kalimat itu membekas dalam benak saya dan menjadi kalimat ajaib hingga hari ini.

Menulis juga membawa saya pada banyak perjumpaan dan diskusi panjang dengan berbagai kalangan. Ada mereka yang sekadar mencari inspirasi, ada yang ingin berbagi pengalaman, dan ada juga yang sekadar ingin tahu bagaimana seorang penulis tetap bertahan. Dari semua percakapan itu, satu hal yang saya pelajari: menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang memahami manusia dan kehidupan itu sendiri.

Menulis juga mengajarkan saya soal kedisiplinan. Banyak yang berpikir bahwa menulis hanya butuh inspirasi, padahal yang lebih penting adalah kebiasaan. Inspirasi bisa datang dan pergi sesuka hati, tapi kebiasaan menulis adalah sesuatu yang harus dipupuk. Saya membiasakan diri untuk menulis setiap hari, meskipun hasilnya tidak selalu bagus. Menulis adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran.

Saya ingat bagaimana Ernest Hemingway berkata, “The first draft of anything is shit.”Dalam harfiah lain, menulis tak lain merupakan suatu kebiasaan. Kebiasaan untuk terus menulis, hingga akhirnya kita menemukan bentuk terbaik dari tulisan kita.

Ada masa di mana saya merasa tulisan saya buruk. Ada masa ketika saya merasa tak ada yang membaca, atau lebih buruk lagi, ada yang membaca tapi tak peduli. Ada masa ketika saya melihat teman-teman yang dulu sempat menulis, satu per satu menyerah, kembali ke kehidupan normal mereka tanpa beban harus merangkai kata. Tapi, saya tetap bertahan. Barangkali, karena saya keras kepala, atau mungkin karena saya sadar: Satu-satunya prestasi terbaik seorang penulis adalah bahwa ia masih menulis—setidaknya untuk hari ini.

Baca juga: Menulis untuk Apa?

Menulis itu seperti lari maraton dalam kabut. Kau tak tahu kapan garis finisnya, atau apakah garis finis itu benar-benar ada. Yang bisa kau lakukan hanyalah terus melangkah, menapaki jalan dengan kesadaran bahwa bahkan di titik terburuk sekalipun, menulis tetaplah hal yang berharga.

Menulis bagi saya bukan sekadar pekerjaan atau hobi, melainkan bagian dari hidup. Ada sesuatu yang menenangkan ketika saya menuangkan pikiran dalam bentuk kata-kata. Ia menjadi tempat saya memahami diri sendiri, menyusun ulang perasaan, dan menghadapi dunia dengan lebih lapang.

Saya juga percaya dengan apa yang dikatakan Haruki Murakami, “Pain is inevitable. Suffering is optional.” Dalam menulis, ada kelelahan, ada kebosanan, ada penolakan. Tapi, apakah kita akan berhenti karena itu? Tidak. Kita tetap menulis, karena hanya dengan itulah kita terus hidup.

Jadi, jika kau ingin menulis, silakan saja. Tetapi, jangan tanya saya bagaimana cara memulainya. Saya lebih ingin tahu, apakah kau masih akan menulis bulan depan, tahun depan, atau sepuluh tahun lagi. Karena di dunia ini, ada banyak sekali orang yang ingin menulis, tapi hanya sedikit yang benar-benar tetap menulis.

Dan jika kau masih menulis hari ini, selamat. Kau sudah melakukan satu hal yang benar.

Hendy Pratama

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top