Ada suatu masa dalam hidup saya ketika saldo rekening lebih sering kosong daripada penuh, dan ketika penuh pun, umurnya tak pernah lebih dari seminggu. Saya kira, ini adalah penyakit umum anak muda: baru gajian, langsung royal. Rasanya seperti balas dendam setelah sekian lama hidup dalam kungkungan dompet tipis. Masalahnya, setelah puas jajan ini-itu, datanglah fase mengenaskan: tanggal tua dengan saldo yang hanya cukup buat bayar parkir.
Saya yakin banyak orang mengalami hal yang sama. Toh, kita memang hidup di zaman di mana uang lebih gampang keluar ketimbang masuk. Godaannya banyak! Ada promo diskon yang menggoda, cicilan paylater yang menggiurkan, dan ajakan nongkrong yang kalau ditolak takut dicap antisosial. Maka, tanpa sadar, uang yang mestinya bertahan sebulan malah hanya bertahan seminggu. Sisanya? Kita hidup dalam genggaman mie instan dan air putih.
Tapi seiring waktu, saya sadar bahwa mengelola keuangan bukan soal seberapa besar pemasukan kita, melainkan seberapa pintar kita mengendalikannya. Saya pernah percaya bahwa gaji besar adalah solusi. Ternyata salah. Gaji besar tanpa manajemen yang baik hanya memperbesar gaya hidup, bukan kesejahteraan. Percuma penghasilan naik kalau pengeluaran ikut melambung.
Akhirnya saya mulai menerapkan beberapa prinsip dasar. Pertama, saya membiasakan diri untuk mencatat pengeluaran. Terkesan remeh, tapi sangat membantu. Dengan mencatat, saya jadi tahu bahwa selama ini saya sering bocor di pengeluaran kecil yang tak terasa, seperti kopi di kafe atau langganan aplikasi yang lupa saya matikan. Kedua, saya membagi gaji ke dalam pos-pos yang jelas: kebutuhan pokok, tabungan, investasi, dan hiburan. Prinsip ini membuat saya lebih disiplin dan tidak asal jajan.
Ketiga, saya mulai belajar soal investasi. Ini bagian yang semula saya anggap terlalu rumit, tapi ternyata cukup penting. Dulu, saya pikir investasi hanya untuk orang kaya. Setelah belajar, saya sadar bahwa investasi justru adalah cara agar kita bisa kaya. Saya mulai dari yang sederhana: reksa dana dan emas. Memang hasilnya tidak instan, tapi di situlah letak keindahannya. Keuangan yang sehat bukan dibangun dalam semalam, melainkan dengan kebiasaan yang konsisten.
Baca juga: Cara Mengatasi Stres Biar Pikiran Jadi Rileks
Salah satu teori yang menarik dalam pengelolaan keuangan adalah teori “50/30/20” yang dipopulerkan oleh Elizabeth Warren, seorang profesor ekonomi. Dalam teori ini, 50% penghasilan digunakan untuk kebutuhan primer seperti makanan, tempat tinggal, dan transportasi, 30% untuk hiburan dan gaya hidup, serta 20% untuk tabungan dan investasi. Konsep ini sederhana tetapi sangat efektif untuk memastikan keuangan tetap stabil.
Selain itu, prinsip “The Richest Man in Babylon” yang dikenalkan oleh George S. Clason juga menarik untuk diterapkan. Dalam buku klasik ini, Clason menekankan pentingnya menabung setidaknya 10% dari penghasilan sebagai fondasi utama menuju kebebasan finansial. Dengan prinsip ini, seseorang tidak hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga membangun masa depan yang lebih mapan.
Dalam konteks investasi, Warren Buffett, salah satu investor paling sukses di dunia, selalu menekankan pentingnya berpikir jangka panjang. “Jangan menabung setelah menghabiskan uang, tetapi habiskan uang setelah menabung.” Prinsip ini menegaskan bahwa pengelolaan keuangan yang baik berawal dari disiplin diri.
Selain itu, ada konsep “Financial Independence, Retire Early” (FIRE) yang mulai populer. Konsep ini mengajarkan bahwa dengan mengelola keuangan secara ketat, hidup hemat, dan berinvestasi secara agresif, seseorang bisa pensiun dini dan menikmati kebebasan finansial lebih awal. Tentu saja, ini membutuhkan dedikasi dan kedisiplinan yang tinggi.
Saya juga belajar tentang konsep “Behavioral Finance” yang dipelajari oleh Richard Thaler, seorang pemenang Nobel Ekonomi. Dalam studinya, Thaler menjelaskan bahwa keputusan keuangan sering kali dipengaruhi oleh emosi dan kebiasaan buruk. Misalnya, banyak orang membeli barang hanya karena diskon, bukan karena benar-benar butuh. Atau, banyak yang menunda investasi karena takut risiko, padahal inflasi terus menggerogoti nilai uang mereka.
Dari semua teori itu, saya menyadari bahwa kunci utama dalam mengelola keuangan bukan hanya angka-angka, tetapi juga pola pikir. Kita harus punya kesadaran untuk hidup sesuai kemampuan, bukan sekadar mengejar gengsi. Sayangnya, banyak orang terjebak dalam budaya konsumtif yang lebih mementingkan tampilan daripada kestabilan finansial.
Banyak orang berpikir bahwa utang adalah solusi, padahal kalau tidak dikelola dengan baik, utang justru bisa menjadi jerat. Utang konsumtif seperti cicilan gadget terbaru atau baju bermerek hanya akan membebani arus kas kita. Sebaliknya, utang yang produktif, seperti modal usaha atau pinjaman pendidikan, bisa menjadi investasi jangka panjang yang menghasilkan keuntungan.
Baca juga: Perihal Mengelola Emosi dan Mengendalikan Diri
Dalam konteks Indonesia, fenomena paylater semakin menjamur. Fasilitas ini memang memudahkan, tetapi juga berisiko. Banyak orang tergoda membeli barang yang sebenarnya di luar kemampuan mereka hanya karena ada opsi bayar nanti. Tanpa perhitungan yang matang, paylater bisa menjadi lubang finansial yang sulit ditutup.
Selain mengelola pengeluaran dan investasi, penting juga untuk memiliki dana darurat. Dana darurat berfungsi sebagai penyangga ketika ada kejadian tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau biaya medis mendadak. Para pakar keuangan merekomendasikan untuk memiliki dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan pengeluaran bulanan.
Saya juga mulai mempelajari diversifikasi dalam investasi. Jangan taruh semua uang di satu tempat. Prinsip ini mirip dengan pepatah “jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.” Dengan diversifikasi, kita bisa mengurangi risiko dan meningkatkan peluang keuntungan jangka panjang.
Pada akhirnya, mengelola keuangan bukan soal mengencangkan ikat pinggang sampai tak bisa bernapas, tapi soal keseimbangan. Saya masih sesekali jajan kopi, masih sesekali makan enak di luar, tapi semua sudah dalam kendali. Toh, hidup juga perlu dinikmati, asal jangan sampai kenikmatan hari ini menjadi beban untuk hari esok.
Memang tidak ada rumus pasti untuk semua orang, tapi satu hal yang saya pelajari: Uang itu ibarat air. Kalau tidak diatur alirannya, ia bisa banjir di awal dan kering di akhir. Dan percayalah, tak ada yang lebih menyedihkan daripada dompet kering di tanggal tua. Maka, sebelum terlambat, ayo mulai belajar mengelola keuangan dengan lebih bijak.



